Thursday, December 25, 2014

SCIENTIFIC APPROACH DALAM PEMBELAJARAN PAI

A. Pendahuluan
Pembelajaran adalah proses perubahan perilaku atau kepribadian seseorang berdasarkan praktek dan pengalaman tertentu. Sehingga proses pembelajaran itu harus membawa perubahan pada orang yang belajar dari berbagai aspeknya, baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap secara utuh.
Dalam berbagai pandangan para ahli, pembelajaran yang berlangsung saat ini terkesan masih lebih banyak dipersipakan untuk ujian semata, sehingga dalam prosesnya sering terlihat, peserta didik lebih banyak diberi tahu oleh gurunya bukan mencari tahu sendiri.
Pembelajaran seperti ini terjadi baik di sekolah maupun di madrasah. Pendidikan Agama Islam (PAI) sendiripun masih belum bisa mengembangkan potensi afektif dan psikomotorik siswa secara maksimal, karena pembelajarn PAI lebih banyak berkutat pada kisaran kognitif. Pendidikan agama masih dilihat dari dimensi ritual saja dan jauh dari pengayaan spiritual, etik dan moral sehingga peserta didik secara verbal dapat memahami ajaran Islam serta terampil melaksanakannya, akan tetapi kurang menghayati kedalaman maknanya.
Dalam proses pembelajaran PAI di sekolah, juga masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan pada ceramah yang monolog dan doktrinatif. Praktek-praktek di atas menjadikan pembelajaran yang berlangsung seperti tidak bermakna, tidak mendidik dan tidak menjadikan siswa/siswi aktif, kreatif dan inovatif sesuai dengan harapan.
Solusi hal ini antara lain, perlunya alternatif dan strategi baru seperti pembelajaran dengan pendekatan contextual teaching learning, inquiry, problem solving dan active learning diterapkan. Dengan demikian, peserta didik dibiarkan melakukan perambahan intelektual sendiri, sehingga menemukan dalam dirinya kedewasaan dalam beragama, baik dalam hal afeksi religiusnya maupun dimensi intelektualnya.
Dengan berlakunya kurikulum 2013 yang mulai dilaunching pada juli tahun lalu, pemerintah nantinya ingin mecetak SDM-SDM yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kreatif dan memiliki sikap yang baik/bijak. Lulusan seperti itu sangat ditentukan oleh proses pendidikan yang dilaluinya. Oleh karena itu, akhirnya pemerintah mengeluarkan aturan terbaru tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah melalui Permendikbud nomor 65 tahun 2013 yang menegaskan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah menggunakan pendekatan scientifik (scientific approach) sehingga diharapkan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif ke depannya.
Pendidikan secara umum yang berlangsung sampai saat ini, menurut berbagai kalangan masih terkesan “hanya” dipersipakan untuk menjawab soal-soal ujian terutama UAN/UN. Dalam proses pembelajaran juga sering terlihat, anak didik lebih banyak diberi tahu oleh gurunya melalui ceramah dan bukan mencari tahu sendiri. Praktek-praktek di atas menjadikan pembelajaran yang berlangsung seperti tidak bermakna, tidak mendidik dan tidak menjadikan siswa/siswi aktif, kreatif dan inovatif sesuai dengan harapan.
Kondisi di atas tidak terkecuali terjadi pula pada pendidikan agama, baik di sekolah maupun madrasah. Pendidikan Agama dipandang belum bisa mengembangkan potensi afektif dan psikomotorik siswa, karena Pendidikan Agama masih berkutat pada kisaran kognitif semata. Pendidikan agama dipandang dari dimensi ritual masih jauh dalam memberikan pengayaan spiritual, etik dan moral, akibatnya, peserta didik secara verbal dapat memahami ajaran Islam serta terampil melaksanakannya, tetapi kurang menghayati kedalaman maknanya.
Dalam proses pembelajaran, pendidikan agama Islam juga masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan penggunaan metode ceramah, cenderung monolog dan doktrinatif. sehingga pendidikan lebih merupakan sebagai pengayaan individu pendidik saja. Padahal, peserta didik yang telah mempunyai potensi agama (sense of religion) perlu dikembangkan melalui proses perenungan yang dalam dan proses dialogis yang produktif dan kritis. (Nurlena Rifa’i, 2012 : 1)
Mengatasi kodisi ini, agaknya penggunaan metode-metode moderen seperti contextual teaching learning, metode inquiry, problem solving dan active learning menjadi sebuah keniscayaan. Sebab dengan demikian, peserta didik dibiarkan melakukan perambahan batin dan intelektual, sehingga kelak menemukan dalam dirinya kedewasaan dalam beragama, baik dalam hal afeksi religiusnya maupun dimensi intelektualnya. Sehingga peran pendidik disini hanya sebagai mitra dialog bagi peserta didik. Tidak ada tempat bagi pendidik, yang dalam proses berikutnya peserta didik di doktrin dengan apa yang telah menjadi pemahamannya. Penggarapan ranah afektif dan psikomotorik terkait pengembangan etos kerja, kejujuran, kerja keras, profesionalisme, kesopanan dalam bentuk pengembangan disiplin dan latihan-latihan yang nyata perlu mendapat perhatian khusus.
Dengan berlakunya kurikulum 2013 yang mulai dilaunching pada juli tahun 2013, pemerintah melalui Kemendikbud menargetkan ke depan bahwa SDM yang akan dicetak di lembaga pendidikan tidak saja yang pintar dan kreatif akan tetapi juga memiliki sikap yang baik dan bijak. Lulusan-lulusan yang cerdas, kreatif dan memiliki sikap yang baik sangat ditentukan oleh proses pendidikan yang dilaluinya, maka pemerintah mengeluarkan aturan terbaru yang mengatur tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah dengan terbitnya Permendikbud nomor 65 tahun 2013.
Melalui Permendikbud ini, pemerintah menegaskan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah menggunakan pendekatan scientifik (scientific approach) sehingga diharapkan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif.


B. Scientific Approach
1. Pengertian Scientific Approach
Scientific berasal bahasa Inggris yang berarti ilmiah, yaitu bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan atau berdasarkan ilmu pengetahuan. (Tim Prima Pena, t.th : 339). Sedangkan approach yang berarti pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang sesuatu. Dengan demikian, maka pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu ilmiah.
Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang  melandasi penerapan metode ilmiah.
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
2. Filosofi Pembelajaran Saintifik
Allah SWT menciptakan manusia sejak dari rahim ibunya tidak mengetahui apaun, kemudian Ia anugrahi manusia dengan berbagai fasilitas dan perangkat untuk hidup sehingga manusia mampu mengarungi dunia ini dengan baik dan sukses. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat :
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak me-ngetahui sesuatu pun, dan Dia membe-rimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”. (Q.S. al-Nahl : 78)
Ayat di atas mengarahkan umat manusia agar membiasakan diri untuk mengamati, karena salah satu fitrah yang ia bawa sejak lahir adalah cenderung menggunakan mata terlebih dahulu baru hati (qalbu).
Berdasarkan hal tersebut, maka proses pembelajaran harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Karena pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah, yang semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.
Pembelajaran Saintifik menurut kemdikbud secara filosofi sesungguhnya didasari oleh pergeseran paradigma belajar abad 21. Ciri abad 21 ditandai dengan era informasi (tersedia dimana saja dan kapan saja), era komputasi (lebih cepat menggunkan mesin, era otomasi (menjangkau semua pekerjaan rutin), dan era komunikasi (dimana saja dan kemana saja).
Dari ciri-ciri abad 21 tersebut, maka model pembelajaran yang seharusnya dipraktekkan sekarang juga mengakomodir hal-hal tersebut dengan pola sebagai berikut :
a. Abad 21 merupaka era informasi, maka pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.
b. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah [menanya], bukan hanya menyelesaikan masalah [menjawab].
c. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis [pengambilan keputusan] bukan berfikir mekanistis [rutin], dan
d. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. (Syawal Gultom, 2013)
Menurut penjelasan Kemdikbud melalui Tim Pusat Kurikulum dan Perbukuan, bahwa pembelajaran saintifik adalah :
a. Pembelajaran yang logic, berbasis pada fakta, data atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika/penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
b. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
c. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
d. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
e. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
f. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
g. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik
Dyers, dalam Harvard Business Review menyebutkan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Akan tetapi kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik (Dyers, J.H. 2011).
Dari sini ia simpulkan bahwa kemampuan kreativitas dapat diperoleh melalui : Observing [mengamat], Questioning [menanya], Experimenting [mencoba], Associating [menalar], Networking [Membentuk jejaring].
Mengacu pula kepada Permendikbud nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat noni lmiah.
Operasional langkah-langkah pembelajaran saintifik tersebut adalah :
1. Observing (Mengamati)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Proses mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
2. Questioning (Menanya)
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimat efektif!
3. Associating (Menalar)
Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.
4. Experimenting (Mencoba)
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;(6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.
5. Networking (Jejaring Pembelajaran/Kolaboratif)
 Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif.? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknaikerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena memang, internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Masa depan adalah milik peserta didik yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin.
Dengan menggunakan pembelajaran saintifik, pada lima langkah pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan beberapa aktifitas pembelajaran siswa, seperti dalam bagan di bawah ini :

C. Hakikat Pembelajaran PAI  
Secara umum tujuan pembelajaran PAI adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.
Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk :
1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional
2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan.
Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia.
Hakikat Pendidikan Agama Islam  adalah usaha  orang dewasa  muslim yang bertaqwa secara sadar  mengarahkan  dan membimbing  pertumbuhan  serta perkembangan   fitrah (kemampuan dasar) anak didik  melalui ajaran  Islam  ke arah titik maksimal  pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan secara teoritis  mengandung  pengertian “memberikan” (avoiding)  kepada jiwa  anak didik  sehingga mendapatkan  kepuasan rohaniah,  juga sering diartikan  dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar  manusia  bila ingin  diarahkan   kepada pertumbuhan   sesuai dengan ajaran Islam,  maka harus berproses  melalui sistem   kependidikan Islam, baik  melalui kelembagaan  maupun melalui  sistem kurikuler.
Esensi  dari potensi  dinamis dalam setiap diri manusia  itu terletak  pada keimanan/keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlaq,  (moralitas) dan pengalamannya. Oleh karena itu dalam strategi   pendidikan Islam  keempat potensi  dinamis yang esensial  tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran  proses kependidikan   Islam  sampai kepada tercapainya  tujuan akhir   pendidikan. Yaitu  manusia dewasa  yang muttaqin.
Bilamana pendidikan Islam diartikan sebagai proses, maka diperlukan adanya sistem  dan sasaran  atau tujuan yang hendak  dicapai dengan proses melalui sistem  tertentu karena  proses  pendidikan tanpa sasaran dan tujuan yang jelas berarti suatu “opurtunisme”, yang akan menghilangkan  nilai hakiki pendidikan. Oleh karena itu,  proses yang demikian  (yang tanpa tujuan)  mengandung   makna   yang bertentangan  dengan pekerjaan  mendidik itu sendiri, bahkan dapat menafikan  harkat dan martabat serta nilai  manusia sebagai “khalifah”  Allah di muka bumi, karena  aspek-aspek   kemampuan individual  (al-fadiyah), sosialitas (al-ijrimaiyyah), dan moralitas (al-ahlaqiyaah) merupakan hakikat kemanusiaannya  (anthopologis pentra) dalam sistem  proses,  terdapat umpan balik  (feedback)  melalui  evaluasi   yang bertujuan  memperbaiki  mutu  produk.
Oleh karena itu,  proses pendidikan Islam merupakan  kemutlakan  dalam sasaran yang hendak   digarap dan tujuan  yang hendak  dicapai, yang dirumuskan   secara jelas dan akurat itulah yang mengarahkan proses kependidikan Islam ke arah  pengembangan  optimal  ketiga aspek   kemampuan  tersebut yang didasari  dengan nilai   ajaran Islam. Sedang evaluasi   merupakan alat  pengoreksi kesalahan   yang terjadi   dalam proses  berakibat pada produk  yang tidak tepat. Proses mengandung  pengertian sebagai penerapan  cara-cara atau sarana untuk  mencapai hasil yang diharapkan.

D. Pendekatan Saintific dalam Pembelajaran PAI
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terdiri atas empat aspek yaitu al-Qur'an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur'an Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber akidah-akhlak, syari’ah/fikih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terdiri atas empat unsur tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri.
Pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik artinya pelaksanaan pembelajaran PAI yang memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Materi pembelajarannya berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran PAI.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran PAI.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran PAI.
5. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
6. Tujuan pembelajarannya dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik dalam sistem penyajiannya.
Beberapa contoh penerapan Scientific Approach dalam Pembelajaran PAI misalnya dapat dilihat dalam tiga apek berikut, yaitu aspek al-Qur’an Hadis, aspek Akhlak/Budi Pekerti dan aspek Sejarah Peradaban Islam.
Pertama, Materi PAI aspek al-Qur’an hadis dengan tema ; Bersungguh-sungguh dalam mencari Ilmu dan Menghormati guru. Kompetensi yang hendak dicapai adalah peserta didik memahami kandungan Q.S. Al-Mujadalah (58): 11 dan Q.S. Ar-Rahman (55): 33.
Indikatornya adalah :
1. Menemukan data-data tentang kebenaran ayat al-Mujadalah dari hasil penamatan terhadap lingkungan.
2. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemukan dari hasil pengamatan.
3. Mengartikan ayat al-Mujadalah
4. Membacakan surat al-Mujadilah
5. Menyimpulkan arti kandungan surat al-Mujadilah dalam diskusi
6. Mempresentasikan hasil diskusi
Dengan materi tersebut, maka langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengamati lingkungan kehidupan untuk menmukan bukti-bukti tentang kebenaan Surat Al-Mujadalah melalui lembar kerja yang telah disediakan.
2. Mengidentifikasi dan menanyakan hal-hal yang ditemukan dari hasil pengamatan.
3. Mengumpulkan data dari hasil pengamatan dan Membaca Surat Al-Mujadalah dengan tartil.
4. Menyimpulkan isi kandungan Al-Mujadalah setelah menterjemaahkan ayat 11 surat Al-Mujadalah.
5. Mengkomunikasikan isi kandungan Surat Al-Mujadalah melalui kegiatan presentasi tiap-tiap kelompok.
6. Secara bersama sama membacakan dengan tartil.
Kedua, Materi PAI aspek akhlak/budi pekerti dengan tema ; berempati itu mudah, menghormati itu indah. langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Observing (mengamati).
Mengamati dan memberi komentar gambar atau tayangan yang terkait dengan empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menyimak dan membaca penjelasan mengenai empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari
2. Questioning (menanya)
Dengan dipandu guru mengajukan pertanyaan tentang cara menumbuhkan sikap empati,hormat terhadap orang tua dan guru. Mengajukan pertanyaan mengenai manfaat sikap empati. empati,hormat terhadap orang tua dan guru.
3. Eksperimen (eksplorasi)
Secara berkelompok mencari contoh-contoh nyata sikap empati di sekolah dan di masyarakat. Mendiskusikan dan mengelompokkan data dan informasi tentang manfaat yang ditimbulkan oleh sikap empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari.
4. Asosiasi (menalar)
Menganalisis dan menyimpulkan empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menganalisis dan menyimpulkan hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari.
5. Networking (Membentuk Jejaring)
Mensosiodramakan perilaku empati,hormat kepada kedua orang tua dan guru. Memaparkan pentingnya perilaku empati dalam hidup bermasyarakat, dan bernegara. Memaparkan pentingnya hormat dengan orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menanggapi pertanyaan dan memperbaiki paparan. kemudian menyusun kesimpulan.
Ketiga, Materi PAI aspek sejarah peradaban Islam dengan tema ; Sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Periode Mekah. langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengamati :
Melihat, Membaca, Mendengar, Memperhatikan tayangan; lalu peserta didik memperhatikan tayangan dan penjelasan guru tentang sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. periode Mekah
2. Menanya :
Menanya, Memberi umpan balik, Mengungkapkan, artinya dialog mendalam secara klasikal untuk mengungkap sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw. periode Mekah berdasarkan pengamatan terhadap tayangan video. Kemudian melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan : Keadaan Mekah sebelum kedatangan Nabi SAW, Kronologi kenabian Muhammad SAWdan Strategi Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan Islam.
3. Eksplorasi :
Berpikir kritis, Mendialogkan, Mengeksperimen. Dimana peserta didik melakukan diskusi kelompok mengenai : Sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dari buku teks dan sumber lainnya, Sejarah Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi rasul berdasarkan data dari buku teks dan sumber lainnya, Dakwah Nabi Muhammad Saw. di Mekah dari buku teks dan sumber lainnya.
4. Asosiasi :
Menghubungkan dengan materi lain, membuat rumusan. Disini peserta didik melaksanakan kegiatan seperti : Melakukan analisis kronologi sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Melakukan analisis kronologi sejarah Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi rasul dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Melakukan analisis dakwah Nabi Muhammad Saw. di Mekah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map).
5. Komunikasi :
Mempresentasikan, Mendialogkan, Menyimpulkan. Di tahap ini peserta didik melaksanakan kegiatan : Menyajikan paparan kronologi sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menyajikan paparan kronologi sejarah diangkatnya Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menyajikan paparan analisis dakwah yang dilakukan rasul di Mekah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menanggapi pertanyaan dan menyusun kesimpulan.

E. Kesimpulan
Berdasarkan uraian ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu ilmiah. Dengan filosofi lebih menonjolkan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah, yang semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Dengan pendekatan ini makan terjadi pergeseran strategi yang jelas antara pembelajaran masa lalu dengan pembelajaran saat ini dan ke depan yaitu prinsip dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu.
Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran terdiri dari lima langkah pembelajaran yaitu; mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (eksperimenting/eksploring), mengolah (associating), menyajikan/menyimpulkan (communicating), untuk semua mata pelajaran.
Pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik artinya pelaksanaan pembelajaran PAI dimana pembelajarannya berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran PAI. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran PAI. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran PAI. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan tujuan pembelajarannya dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik dalam sistem penyajiannya.

F. Daftar Pustaka
Darajat, Zakiah, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2008
Dyers, J.H. et al, Innovators DNA, Harvard Business Review, USA, 2011
Haidari, Amin (ed.), Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Jakarta, Puslitbang Kemenag, 2010
H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1993)
Kemdikbud RI, Pedoman Diklat Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta: t.p. 2013
http://www.bakharuddin.net/2013/09/pendekatan-scientific-untuk-penerapan.html
http://gurupembaharu.com/home/ penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Agama; Kurikulum Hingga Startegi Pembelajaran, Jakarta : Rajawali Pers, 2009
Muzamiroh, Mida Latifatul, Kupas Tuntan Kurikulum 2013 (kelebihan dan Kekurangan kurikulum 2013), T. tp : Kata Pena, 2013
Ruhimat, Toto, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Rajawali Press, 2012
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,Jakarta, Kencana : 2006
Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi terbaru, Jakarta, Citra Media Press, t.th.
Uin Suska, Sejarah ringkas, lingkup, dan metode psikologi pendidikan, http://f-class article.blogspot.com/2009_03_01_archive.html

Model Pendidikan Islam Menurut Al-Ghazali

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bersamaan dengan perputaran dunia, modernisasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dari hari ke hari semakin berkembang, akhir-akhir ini kita melihat banyak generasi Islam yang sudah tidak mengenal para tokoh Islam yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan. Mereka kadang meremehkan dengan mengatakan, ”Di mana tokoh Islam”? Hal ini terjadi karena mereka kurang mengenal terhadap beberapa tokoh Islam yang berhasil mencetak generasi yang tidak kalah hebat dengan tokoh pendidikan non-Muslim dalam mencetak generasi berakhlak al-karimah, disiplin, terhormat, serta bermanfaat untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa.
         Dengan berpandangan pada beberapa hal tersebut, mengenal para tokoh pendidikan Islam merupakan salah satu langkah yang seharusnya dilakukan, dimiliki, dihayati dan harus menjadi kebanggaan untuk selalu mengangkat harkat dan martabatnya serta mensosialisasikan dikalangan umum. Dengan begitu generasi penerus Islam bisa berbangga hati bahwa mereka mempuyai tokoh yang pantas untuk dijunjung tinggi sebagai pelita penerang yang melahirkan model, teori, dan fatwa yang dijadiakn referensi generasi berikutnya dalam kehidupan berbangsa dan beragama.Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Muslim yang pemikirannya sangat luas dan mendalam dalam berbagai hal diantaranya dalam masalah pendidikan. Pada hakikatnya usaha pendidikan menurut Al-Ghazali adalah dengan mengutamakan beberapa hal terkait yang diwujudkan secara utuh dan terpadu karena model pendidikan yang dikembangkannya berawal dari kandungan ajaran dan tradisi Islam yang menjunjung berprinsip pendidikan manusia seutuhnya. Di zaman yang modern ini sangat relevan untuk mengetahui model pendidikan dari tokoh Muslim terkemuka ini, pembahasan makalah ini di dalamnya akan membahas Model Pendidikan Islammenurut Al-Ghazali.

B.     Rumusan Masalah
1.      Riwayat Hidup Al-Ghazali
2.      Karya-karya Al-Ghazali
3.      Model Pendidikan Islam menurut Al-Ghazali
4.      Analisis Al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Hidup Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An-Naysaburi. Ia dilahirkan di Thus, sebuah Kota di Khurasan Persia pada tahun 450 H. atau 1058 M. Ayahnya seorang pemintal wool. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara, ketika akan meninggal ayahnya berpesan kepada seorang sahabat setia agar kedua putranya diasuh dan disempurnakan pendidikannya. Sahabat tersebut segera melaksanakan wasiat ayah Al-Ghazali dengan mendidik dan menyekolahkan keduanya. Setelah harta pusaka peninggalan ayah mereka habis, keduanya dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampunya. Imam Al-Ghazali sejak kecil dikenal sebagai seorang anak pencinta ilmu pengetahuan dan pencari kebenaran yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita, dilanda aneka rupa nestapa dan sengsara. Di masa kanak-kanak, Imam Al-Ghazali belajar kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Raziqani di Thus kemudian belajar kepada Abi Nasr Al-Ismaili di Jurjani dan akhirnya ia kembali ke Thus.
Setelah itu Imam Ghazali pindah ke Naysaburi untuk belajar kepada seorang ahli agama kenamaan di masanya, yaitu Al-Juwaini yang bergelar Imam Haramain; darinya Al-Ghazali belajar ilmu kalam, ilmu ushul, dan ilmu agama lainnya. Imam Al-Ghazali memang orang cerdas dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih, sehingga Imam Juwaini memberi predikat sebagai orang yang memiliki ilmu sangat luas bagaikan “laut dalam nan menenggelamkan”. 
Keikutsertaan Al-Ghazali dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama dan intelektual di hadapan Nidzam Al-Mulk membawa keuntungan besar baginya. Nidzam Al-Mulk berjanji akan mengangkat Al-Ghazali sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Baghdad pada tahun 484 atau 1091 M. Setelah empat tahun di universitas tersebut, ia memutuskan untuk berhenti mengajar dan meninggalkan Baghdad. Setelah itu ia pergi ke Syam, hidup dalam Jami Umawi dengan kehidupan total dipenuhi ibadah, dilanjutkan ke padang pasir untuk meninggalkan kemewahan hidup dan mendalami agama.
Dari sana, ia kembali ke Baghdad untuk kembali mengajar. Selain mengajar, ia juga rajin menulis buku atau kitab. Kitab pertama yang dikarangnya adalah ”Al-Munqidz min al-Dhalal”. Setelah sepuluh tahun di Baghdad, ia pergi ke Naysaburi dan sibuk mengajar di sana. Dalam waktu yang tidak lama setelah itu beliau meninggal di Thus kota kelahiranya pada hari Senin tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H. atau 1111 M.

B. Karya-karya Al-Ghazali
Al-Ghazali banyak mengarang buku dalam berbagai disiplin ilmu. Karangan-karangannya meliputi Fikih, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, Teologi Kaum Salaf, bantahan terhadap kaum Batiniah, Ilmu Debat, Filsafat dan khususnya yang menjelaskan tentang maksud filsafat serta bantahan terhadap kaum filosof, logika, tasawuf, akhlak dan psikologi.
Kitab terbesar karya Al-Ghazali yaitu Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), karangannya ini beberapa tahun dipelajari secara seksama di antara Syam, Yerussalem, Hajaz, dan Thus. Karyanya berisi paduan yang indah antara fikih, tasawuf dan filsafat; bukan saja terkenal di kalangan kaum Muslimin tetapi juga di kalangan dunia Barat.
Karya-karya Al-Ghozali ada yang membaginya sebagai berikut: 
a. Di Bidang filsafat
- Maqasid al-Falasifah
- Tafahut al-Falasifah
- Al-Ma’rif al-‘Aqliyah
b. Di Bidang Agama
- Ihya ‘Ulumuddin
- Al-Munqidz min al-Dhalal
- Minhaj al-Abidin
c. Di Bidang Akhlak Tasawuf
- Mizan al-Amal
- Kitab al-Arbain
- Mishkat al-anwar
- Al-Adab fi al-Din
- Ar-Risalah al-Laduniyah
d. Di Bidang Kenegaraan
- Mustazhiri
- Sirr al-Alamin
- Nasihat al-Muluk
- Suluk al-Sulthanah


C. Model Pendidikan Islam menurut Al-Ghazali
Model pendidikan Al-Ghazali dapat diketahui dengan cara memahami pemikirannya berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu: tujuan, kurikulum, etika guru, dan etika murid, metode.
1. Tujuan Pendidikan menurut Al-Ghazali
Seorang guru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan dengan baik, jika ia memahami benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, dan lainnya. Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui pendidikan ada dua, pertama: tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT; kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Karena itu, beliau bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud dari pendidikan. Tujuan itu tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi. Akan tetapi, di samping bercorak agamis yang merupakan ciri spesifik pendidikan Islam dengan mengutamakan pada sisi keruhanian. Kecenderungan tersebut sejalan dengan filsafat Al-Ghazali yang bercorak tasawuf. Maka tidak salah bila sasaran pendidikan adalah kesempurnaan insani dunia dan akhirat. Manusia akan sampai pada tingkat ini hanya dengan menguasai sifat keutamaam melalui jalur ilmu. Keutamaan itu yang akan membuat bahagia di dunia dan mendekatkan kepada Allah SWT sehingga bahagia di akhirat kelak. Oleh karena itu, menguasai ilmu bagi beliau termasuk tujuan pendidikan, mengingat kandungan nilai serta kenikmatan yang diperoleh manusia darinya. 
Dari hasil studi pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah: Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah. dan kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena itu, ia bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran-sasaran pendidikan yang merupakan tujuan akhir dan maksud dari tujuan itu. Sasaran pendidikan menurut Al-Ghazali adalah kesempurnaan insani di dunia dan akhirat. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan hanya dengan menguasai sifat keutamaan jalur ilmu dan menguasai ilmu adalah bagian dari tujuan pendidikan. 
2. Kurikulum Pendidikan menurut Al-Ghazali
Kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum dalam arti sempit, yaitu seperanngkat ilmu yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik. Pendapat Al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan yang dibaginya dalam beberapa sudut pandang.
Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
 Ilmu tercela yaitu ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu nujum, sihir, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat bagi yang memilikinya maupun orang lain dan akan meragukan keberadaan Allah SWT.
  Ilmu terpuji misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 Ilmu terpuji pada taraf tertentu dan tidak boleh didalami karena dapat mengakibatkan goncangan iman, seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua bagian yang dilihat dari kepentingannya, yaitu:
  Ilmu fardhu (wajib) yang harus diketahui oleh semua orang Muslim, yaitu ilmu agama.
  Ilmu fardhu kifayah yang dipelajari oleh sebagian Muslim untuk memudahkan urusan duniawi, seperti : ilmu hitung, kedokteran, teknik, ilmu pertanian dan industri. 
3. Pendidik menurut Al-Ghazali
Dalam suatu proses pendidikan adanya pendidik merupakan suatu keharusan. Pendidik sangat berjasa dan berperan dalam suatu proses pendidikan dan pembelajaran sehingga Al-Ghazali merumuskan sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik diantaranya guru harus cerdas, sempurna akal, dan baik akhlaknya; dengan kesempurnaan akal seorang guru dapat memiliki ilmu pengetahuan secara mendalam dan dengan akhlak yang baik dia dapat memberi contoh dan teladan bagi muridnya.
Menurut Al-Ghazali, guru yang dapat diserahi tugas mengajar selain harus cerdas dan sempurna akalnya juga baik akhlak dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dengan akhlaknya dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya guru dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya. 
Selain sifat-sifat umum di atas pendidik kendaknya juga memiliki sifat-sifatkhusus dan tugas-tugas tertentu diantaranya:
  Sifat kasih sayang.
  Mengajar dengan ikhlas dan tidak mengharapkan upah dari muridnya.
  Menggunakan bahasa yang halus ketika mengajar.
 Mengarahkan murid pada sesuatu yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.
  Menghargai pendapat dan kemampuan orang lain.
  Mengetahui dan menghargai perbedaan potensi yang dimiliki murid. 
4. Peserta Didik Menurut Al-Ghazali
Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka merupakan hamba Allah yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada-Nya. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabiat dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam. 
Ketika menjelaskan makna pendidikan kepada umat, Al-Ghazali membagi manusia menjadi tiga golongan yang sekaligus menunjukkan keharusan menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda pula, yaitu:
  Kaum awam, yaitu orang yang cara berfikirnya sederhana sekali. Dengan cara berfikir tersebut mereka tidak dapat mengembangkan hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk.
 Kaum pilihan, yaitu orang yang akalnya tajam dengan cara berfikir yang mendalam. Kepada kaum pilihan tersebut harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat.
  Kaum pendebat (ahl al jidal), harus dihadapi dengan sikap mematahkan argumen-argumen mereka.
Menurut Al-Ghazali, ketika menuntut ilmu peserta didik memiliki tugas dan kewajiban, yaitu:
  Mendahulukan kesucian jiwa.
  Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan.
  Jangan menyombongkan ilmunya apalagi menentang guru.
  Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan.
Dengan tugas dan kewajiban tersebut diharapkan seorang peserta didik mampu untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
5. Metode Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Perhatian Al-Ghazali terhadap metode pengajaran lebih dikhususkan bagi pengajaran pendidikan agama untuk anak-anak. Untuk ini ia telah mencontohkan suatu metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti, dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada diri mereka. Metode pengajaran menurut Al-Ghazali dapat dibagi menjadi dua bagian antara pendidikan agama dan pendidikan akhlak. 
Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali pada prinsipnya dimulai dengan hapalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterengan-keterangan yang menguatkan akidah.
Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya. Sementara itu berkaitan dengan pendidikan akhlak, pengajaran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. Al-Ghazali mengatakan bahwa akhlak adalah suatu sikap yang mengakar di dalam jiwa yang akan melahirkan berbagai perbuatan baik dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. 
Selanjutnya, prinsip metodologi pendidikan modern selalu menunjukan aspek ganda. Suatu aspek menunjukan proses anak belajar dan aspek lainnya menunjukan aspek guru mengajar dan mendidik.
a). Asas-asas metode belajar
  Memusatkan perhatian sepenuhnya.
  Mengetahui tujuan ilmu pengetahuan yang akan dipelajari.
  Mempelajari ilmu pengetahuan dari yang sederhana menuju yang komplek.
  Mempelajari ilmu pengetahuan dengan sistematika pembahasan.
b). Asas-asas metode mengajar
  Memperhatikan tingkat daya pikir anak.
  Menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya.
  Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit kepada yang abstrak.
  Mengajarkan ilmu pengetahuan dengan berangsur-angsur.
c). Asas metode mendidik
  Memberikan latihan-latihan.
  Memberikan pengertian dan nasihat
  Melindungi anak dari pergaulan yang buruk.

D. Analisis Al-Ghazali dalam Dunia Pendidikan
Hal ini dapat dipahami dari satu segi tujuan diciptakannya manusia ialah manusia berpotensi untuk menjadi khalifah fi al-ardi. Potensi tersebut akan bermanfaat hanya jika digali melalui pendidikan karena itulah pendidikan merupakan usaha penggalian dan pengemangan fitrah manusia.
Akan tetapi, munculnya filsafat pragmatisme yang mendapat inspirasi dari John Dewey, telah mengubah arah orientasi pendidikan. Filsafat pragmatisme telah mengabaikan konsep-konsep kebenaran dan menggantinya dengan kegunaan, dan pengaruh itu berjalan terus, akhirnya terwujudlah manusia-manusia yang menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan diri manusia itu sendiri. Penggantian konsep tersebut mengharuskan kita untuk mengubah sistem pendidikan yang ada sekarang, yang menyangkut dasar, tujuan, materi, kualifikasi, sistem evaluasi pendidikan dan lain-lain sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
Tidak ada jalan lain untuk mengatasi dunia pendidikan semacam itu kecuali menerapkan sistem pendidikan yang memperhatikan fitrah manusia secara utuh, yakni sistem pendidikan Islam. Selanjutnya, terhadap tantangan-tantangn yang sedang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini, ternyata model pendidikan Al-Ghazali mampu menjawabnya. 
Tampilnya pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah karena aktualitas modelnya, kejelasan orientasi sistemnya, dan secara umum karena pemikirannya yang sesuai dengan sosio kultural. Penampilannya dalam dunia pendidikan merupakan usaha pengubahan eksistensi muslim yang saat ini telah rusak hubungannya dengan sejarah masa lampaunya. Juga, sumbangsihnya terhadap pendidikan Islam untuk mempelajari warisan para leluhurnya yang telah dihalangi oleh barat.


 BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Menurut Al-Ghazali, pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Ghazali menggabungkan antara kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Tentang kurikulum pendidikan Islam, Al-Ghazali mengatakan bahwa Al-Quran beserta kandungannya berisikan pokok-pokok ilmu pengetahuan. Isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, membersihkan jiwa, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tujuan pendidikan Islam dalam pandangan Al-Ghazali hanyalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Adapun tujuan utama dari penggunaan metode dalam pendidikan harus diselaraskan dengan tingkat usia, kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak lepas dari nilai manfaat. Tentang pendidik, Al-Ghazali menekankan bahwa seorang pendidik harus memiliki norma-norma yang baik, khususnya norma akhlak. Karena pendidik merupakan contoh bagi anak didiknya.Dalam kaitannya dengan peserta didik, Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka merupakan hamba Allah yang telah dibekali potensi atau fitrah untuk beriman kepada-Nya. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah sesuai dengan kejadian manusia, cocok dengan tabiat dasarnya yang memang cenderung kepada agama Islam.

Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Yogyakarta: Islamika, 2003.
________, Mutiara Ihya` Ulumuddin. Terj Iwan Kurniawan. Mizan: Bandung. 2001
Arifin M., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Fathiyah Hasan Sulaiman. Konsep Pendidikan Al-Ghazali, Jakarta: Guna Aksara, 1986.
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
___________, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003
Ramayulis dan Nizar, Samsul, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, Ciputat: PT Ciputat Press group, 2005
Zainuddin dkk., Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara,1991.