A. Pendahuluan
Pembelajaran adalah proses perubahan perilaku atau kepribadian seseorang berdasarkan praktek dan pengalaman tertentu. Sehingga proses pembelajaran itu harus membawa perubahan pada orang yang belajar dari berbagai aspeknya, baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap secara utuh.
Dalam berbagai pandangan para ahli, pembelajaran yang berlangsung saat ini terkesan masih lebih banyak dipersipakan untuk ujian semata, sehingga dalam prosesnya sering terlihat, peserta didik lebih banyak diberi tahu oleh gurunya bukan mencari tahu sendiri.
Pembelajaran seperti ini terjadi baik di sekolah maupun di madrasah. Pendidikan Agama Islam (PAI) sendiripun masih belum bisa mengembangkan potensi afektif dan psikomotorik siswa secara maksimal, karena pembelajarn PAI lebih banyak berkutat pada kisaran kognitif. Pendidikan agama masih dilihat dari dimensi ritual saja dan jauh dari pengayaan spiritual, etik dan moral sehingga peserta didik secara verbal dapat memahami ajaran Islam serta terampil melaksanakannya, akan tetapi kurang menghayati kedalaman maknanya.
Dalam proses pembelajaran PAI di sekolah, juga masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan pada ceramah yang monolog dan doktrinatif. Praktek-praktek di atas menjadikan pembelajaran yang berlangsung seperti tidak bermakna, tidak mendidik dan tidak menjadikan siswa/siswi aktif, kreatif dan inovatif sesuai dengan harapan.
Solusi hal ini antara lain, perlunya alternatif dan strategi baru seperti pembelajaran dengan pendekatan contextual teaching learning, inquiry, problem solving dan active learning diterapkan. Dengan demikian, peserta didik dibiarkan melakukan perambahan intelektual sendiri, sehingga menemukan dalam dirinya kedewasaan dalam beragama, baik dalam hal afeksi religiusnya maupun dimensi intelektualnya.
Dengan berlakunya kurikulum 2013 yang mulai dilaunching pada juli tahun lalu, pemerintah nantinya ingin mecetak SDM-SDM yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kreatif dan memiliki sikap yang baik/bijak. Lulusan seperti itu sangat ditentukan oleh proses pendidikan yang dilaluinya. Oleh karena itu, akhirnya pemerintah mengeluarkan aturan terbaru tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah melalui Permendikbud nomor 65 tahun 2013 yang menegaskan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah menggunakan pendekatan scientifik (scientific approach) sehingga diharapkan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif ke depannya.
Pendidikan secara umum yang berlangsung sampai saat ini, menurut berbagai kalangan masih terkesan “hanya” dipersipakan untuk menjawab soal-soal ujian terutama UAN/UN. Dalam proses pembelajaran juga sering terlihat, anak didik lebih banyak diberi tahu oleh gurunya melalui ceramah dan bukan mencari tahu sendiri. Praktek-praktek di atas menjadikan pembelajaran yang berlangsung seperti tidak bermakna, tidak mendidik dan tidak menjadikan siswa/siswi aktif, kreatif dan inovatif sesuai dengan harapan.
Kondisi di atas tidak terkecuali terjadi pula pada pendidikan agama, baik di sekolah maupun madrasah. Pendidikan Agama dipandang belum bisa mengembangkan potensi afektif dan psikomotorik siswa, karena Pendidikan Agama masih berkutat pada kisaran kognitif semata. Pendidikan agama dipandang dari dimensi ritual masih jauh dalam memberikan pengayaan spiritual, etik dan moral, akibatnya, peserta didik secara verbal dapat memahami ajaran Islam serta terampil melaksanakannya, tetapi kurang menghayati kedalaman maknanya.
Dalam proses pembelajaran, pendidikan agama Islam juga masih terpaku pada model konvensional yang lebih menekankan penggunaan metode ceramah, cenderung monolog dan doktrinatif. sehingga pendidikan lebih merupakan sebagai pengayaan individu pendidik saja. Padahal, peserta didik yang telah mempunyai potensi agama (sense of religion) perlu dikembangkan melalui proses perenungan yang dalam dan proses dialogis yang produktif dan kritis. (Nurlena Rifa’i, 2012 : 1)
Mengatasi kodisi ini, agaknya penggunaan metode-metode moderen seperti contextual teaching learning, metode inquiry, problem solving dan active learning menjadi sebuah keniscayaan. Sebab dengan demikian, peserta didik dibiarkan melakukan perambahan batin dan intelektual, sehingga kelak menemukan dalam dirinya kedewasaan dalam beragama, baik dalam hal afeksi religiusnya maupun dimensi intelektualnya. Sehingga peran pendidik disini hanya sebagai mitra dialog bagi peserta didik. Tidak ada tempat bagi pendidik, yang dalam proses berikutnya peserta didik di doktrin dengan apa yang telah menjadi pemahamannya. Penggarapan ranah afektif dan psikomotorik terkait pengembangan etos kerja, kejujuran, kerja keras, profesionalisme, kesopanan dalam bentuk pengembangan disiplin dan latihan-latihan yang nyata perlu mendapat perhatian khusus.
Dengan berlakunya kurikulum 2013 yang mulai dilaunching pada juli tahun 2013, pemerintah melalui Kemendikbud menargetkan ke depan bahwa SDM yang akan dicetak di lembaga pendidikan tidak saja yang pintar dan kreatif akan tetapi juga memiliki sikap yang baik dan bijak. Lulusan-lulusan yang cerdas, kreatif dan memiliki sikap yang baik sangat ditentukan oleh proses pendidikan yang dilaluinya, maka pemerintah mengeluarkan aturan terbaru yang mengatur tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah dengan terbitnya Permendikbud nomor 65 tahun 2013.
Melalui Permendikbud ini, pemerintah menegaskan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah menggunakan pendekatan scientifik (scientific approach) sehingga diharapkan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif.
B. Scientific Approach
1. Pengertian Scientific Approach
Scientific berasal bahasa Inggris yang berarti ilmiah, yaitu bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan atau berdasarkan ilmu pengetahuan. (Tim Prima Pena, t.th : 339). Sedangkan approach yang berarti pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang sesuatu. Dengan demikian, maka pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu ilmiah.
Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang melandasi penerapan metode ilmiah.
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.
2. Filosofi Pembelajaran Saintifik
Allah SWT menciptakan manusia sejak dari rahim ibunya tidak mengetahui apaun, kemudian Ia anugrahi manusia dengan berbagai fasilitas dan perangkat untuk hidup sehingga manusia mampu mengarungi dunia ini dengan baik dan sukses. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat :
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak me-ngetahui sesuatu pun, dan Dia membe-rimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”. (Q.S. al-Nahl : 78)
Ayat di atas mengarahkan umat manusia agar membiasakan diri untuk mengamati, karena salah satu fitrah yang ia bawa sejak lahir adalah cenderung menggunakan mata terlebih dahulu baru hati (qalbu).
Berdasarkan hal tersebut, maka proses pembelajaran harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Karena pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah, yang semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.
Pembelajaran Saintifik menurut kemdikbud secara filosofi sesungguhnya didasari oleh pergeseran paradigma belajar abad 21. Ciri abad 21 ditandai dengan era informasi (tersedia dimana saja dan kapan saja), era komputasi (lebih cepat menggunkan mesin, era otomasi (menjangkau semua pekerjaan rutin), dan era komunikasi (dimana saja dan kemana saja).
Dari ciri-ciri abad 21 tersebut, maka model pembelajaran yang seharusnya dipraktekkan sekarang juga mengakomodir hal-hal tersebut dengan pola sebagai berikut :
a. Abad 21 merupaka era informasi, maka pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.
b. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah [menanya], bukan hanya menyelesaikan masalah [menjawab].
c. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis [pengambilan keputusan] bukan berfikir mekanistis [rutin], dan
d. Abad 21 merupaka era komputasi maka pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. (Syawal Gultom, 2013)
Menurut penjelasan Kemdikbud melalui Tim Pusat Kurikulum dan Perbukuan, bahwa pembelajaran saintifik adalah :
a. Pembelajaran yang logic, berbasis pada fakta, data atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika/penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
b. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
c. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
d. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
e. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
f. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
g. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik
Dyers, dalam Harvard Business Review menyebutkan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Akan tetapi kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik (Dyers, J.H. 2011).
Dari sini ia simpulkan bahwa kemampuan kreativitas dapat diperoleh melalui : Observing [mengamat], Questioning [menanya], Experimenting [mencoba], Associating [menalar], Networking [Membentuk jejaring].
Mengacu pula kepada Permendikbud nomor 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat noni lmiah.
Operasional langkah-langkah pembelajaran saintifik tersebut adalah :
1. Observing (Mengamati)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Proses mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
2. Questioning (Menanya)
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimat efektif!
3. Associating (Menalar)
Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.
4. Experimenting (Mencoba)
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;(6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.
5. Networking (Jejaring Pembelajaran/Kolaboratif)
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif.? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknaikerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena memang, internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia. Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Masa depan adalah milik peserta didik yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin.
Dengan menggunakan pembelajaran saintifik, pada lima langkah pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan beberapa aktifitas pembelajaran siswa, seperti dalam bagan di bawah ini :
C. Hakikat Pembelajaran PAI
Secara umum tujuan pembelajaran PAI adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.
Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk :
1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional
2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan.
Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia.
Hakikat Pendidikan Agama Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberikan” (avoiding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui sistem kependidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.
Esensi dari potensi dinamis dalam setiap diri manusia itu terletak pada keimanan/keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlaq, (moralitas) dan pengalamannya. Oleh karena itu dalam strategi pendidikan Islam keempat potensi dinamis yang esensial tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran proses kependidikan Islam sampai kepada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Yaitu manusia dewasa yang muttaqin.
Bilamana pendidikan Islam diartikan sebagai proses, maka diperlukan adanya sistem dan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai dengan proses melalui sistem tertentu karena proses pendidikan tanpa sasaran dan tujuan yang jelas berarti suatu “opurtunisme”, yang akan menghilangkan nilai hakiki pendidikan. Oleh karena itu, proses yang demikian (yang tanpa tujuan) mengandung makna yang bertentangan dengan pekerjaan mendidik itu sendiri, bahkan dapat menafikan harkat dan martabat serta nilai manusia sebagai “khalifah” Allah di muka bumi, karena aspek-aspek kemampuan individual (al-fadiyah), sosialitas (al-ijrimaiyyah), dan moralitas (al-ahlaqiyaah) merupakan hakikat kemanusiaannya (anthopologis pentra) dalam sistem proses, terdapat umpan balik (feedback) melalui evaluasi yang bertujuan memperbaiki mutu produk.
Oleh karena itu, proses pendidikan Islam merupakan kemutlakan dalam sasaran yang hendak digarap dan tujuan yang hendak dicapai, yang dirumuskan secara jelas dan akurat itulah yang mengarahkan proses kependidikan Islam ke arah pengembangan optimal ketiga aspek kemampuan tersebut yang didasari dengan nilai ajaran Islam. Sedang evaluasi merupakan alat pengoreksi kesalahan yang terjadi dalam proses berakibat pada produk yang tidak tepat. Proses mengandung pengertian sebagai penerapan cara-cara atau sarana untuk mencapai hasil yang diharapkan.
D. Pendekatan Saintific dalam Pembelajaran PAI
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terdiri atas empat aspek yaitu al-Qur'an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur'an Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber akidah-akhlak, syari’ah/fikih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terdiri atas empat unsur tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri.
Pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik artinya pelaksanaan pembelajaran PAI yang memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Materi pembelajarannya berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran PAI.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran PAI.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran PAI.
5. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
6. Tujuan pembelajarannya dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik dalam sistem penyajiannya.
Beberapa contoh penerapan Scientific Approach dalam Pembelajaran PAI misalnya dapat dilihat dalam tiga apek berikut, yaitu aspek al-Qur’an Hadis, aspek Akhlak/Budi Pekerti dan aspek Sejarah Peradaban Islam.
Pertama, Materi PAI aspek al-Qur’an hadis dengan tema ; Bersungguh-sungguh dalam mencari Ilmu dan Menghormati guru. Kompetensi yang hendak dicapai adalah peserta didik memahami kandungan Q.S. Al-Mujadalah (58): 11 dan Q.S. Ar-Rahman (55): 33.
Indikatornya adalah :
1. Menemukan data-data tentang kebenaran ayat al-Mujadalah dari hasil penamatan terhadap lingkungan.
2. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ditemukan dari hasil pengamatan.
3. Mengartikan ayat al-Mujadalah
4. Membacakan surat al-Mujadilah
5. Menyimpulkan arti kandungan surat al-Mujadilah dalam diskusi
6. Mempresentasikan hasil diskusi
Dengan materi tersebut, maka langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengamati lingkungan kehidupan untuk menmukan bukti-bukti tentang kebenaan Surat Al-Mujadalah melalui lembar kerja yang telah disediakan.
2. Mengidentifikasi dan menanyakan hal-hal yang ditemukan dari hasil pengamatan.
3. Mengumpulkan data dari hasil pengamatan dan Membaca Surat Al-Mujadalah dengan tartil.
4. Menyimpulkan isi kandungan Al-Mujadalah setelah menterjemaahkan ayat 11 surat Al-Mujadalah.
5. Mengkomunikasikan isi kandungan Surat Al-Mujadalah melalui kegiatan presentasi tiap-tiap kelompok.
6. Secara bersama sama membacakan dengan tartil.
Kedua, Materi PAI aspek akhlak/budi pekerti dengan tema ; berempati itu mudah, menghormati itu indah. langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Observing (mengamati).
Mengamati dan memberi komentar gambar atau tayangan yang terkait dengan empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menyimak dan membaca penjelasan mengenai empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari
2. Questioning (menanya)
Dengan dipandu guru mengajukan pertanyaan tentang cara menumbuhkan sikap empati,hormat terhadap orang tua dan guru. Mengajukan pertanyaan mengenai manfaat sikap empati. empati,hormat terhadap orang tua dan guru.
3. Eksperimen (eksplorasi)
Secara berkelompok mencari contoh-contoh nyata sikap empati di sekolah dan di masyarakat. Mendiskusikan dan mengelompokkan data dan informasi tentang manfaat yang ditimbulkan oleh sikap empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari.
4. Asosiasi (menalar)
Menganalisis dan menyimpulkan empati,hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menganalisis dan menyimpulkan hormat terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari.
5. Networking (Membentuk Jejaring)
Mensosiodramakan perilaku empati,hormat kepada kedua orang tua dan guru. Memaparkan pentingnya perilaku empati dalam hidup bermasyarakat, dan bernegara. Memaparkan pentingnya hormat dengan orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Menanggapi pertanyaan dan memperbaiki paparan. kemudian menyusun kesimpulan.
Ketiga, Materi PAI aspek sejarah peradaban Islam dengan tema ; Sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Periode Mekah. langkah-langkah pembelajarannya dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Mengamati :
Melihat, Membaca, Mendengar, Memperhatikan tayangan; lalu peserta didik memperhatikan tayangan dan penjelasan guru tentang sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. periode Mekah
2. Menanya :
Menanya, Memberi umpan balik, Mengungkapkan, artinya dialog mendalam secara klasikal untuk mengungkap sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw. periode Mekah berdasarkan pengamatan terhadap tayangan video. Kemudian melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan : Keadaan Mekah sebelum kedatangan Nabi SAW, Kronologi kenabian Muhammad SAWdan Strategi Nabi Muhammad SAW dalam menyiarkan Islam.
3. Eksplorasi :
Berpikir kritis, Mendialogkan, Mengeksperimen. Dimana peserta didik melakukan diskusi kelompok mengenai : Sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dari buku teks dan sumber lainnya, Sejarah Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi rasul berdasarkan data dari buku teks dan sumber lainnya, Dakwah Nabi Muhammad Saw. di Mekah dari buku teks dan sumber lainnya.
4. Asosiasi :
Menghubungkan dengan materi lain, membuat rumusan. Disini peserta didik melaksanakan kegiatan seperti : Melakukan analisis kronologi sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Melakukan analisis kronologi sejarah Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi rasul dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Melakukan analisis dakwah Nabi Muhammad Saw. di Mekah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map).
5. Komunikasi :
Mempresentasikan, Mendialogkan, Menyimpulkan. Di tahap ini peserta didik melaksanakan kegiatan : Menyajikan paparan kronologi sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menyajikan paparan kronologi sejarah diangkatnya Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menyajikan paparan analisis dakwah yang dilakukan rasul di Mekah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map). Menanggapi pertanyaan dan menyusun kesimpulan.
E. Kesimpulan
Berdasarkan uraian ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu ilmiah. Dengan filosofi lebih menonjolkan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah, yang semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Dengan pendekatan ini makan terjadi pergeseran strategi yang jelas antara pembelajaran masa lalu dengan pembelajaran saat ini dan ke depan yaitu prinsip dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu.
Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran terdiri dari lima langkah pembelajaran yaitu; mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (eksperimenting/eksploring), mengolah (associating), menyajikan/menyimpulkan (communicating), untuk semua mata pelajaran.
Pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik artinya pelaksanaan pembelajaran PAI dimana pembelajarannya berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran PAI. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran PAI. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran PAI. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan tujuan pembelajarannya dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik dalam sistem penyajiannya.
F. Daftar Pustaka
Darajat, Zakiah, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2008
Dyers, J.H. et al, Innovators DNA, Harvard Business Review, USA, 2011
Haidari, Amin (ed.), Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), Jakarta, Puslitbang Kemenag, 2010
H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1993)
Kemdikbud RI, Pedoman Diklat Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta: t.p. 2013
http://www.bakharuddin.net/2013/09/pendekatan-scientific-untuk-penerapan.html
http://gurupembaharu.com/home/ penerapan-pendekatan-ilmiah-dalam-pembelajaran/
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Agama; Kurikulum Hingga Startegi Pembelajaran, Jakarta : Rajawali Pers, 2009
Muzamiroh, Mida Latifatul, Kupas Tuntan Kurikulum 2013 (kelebihan dan Kekurangan kurikulum 2013), T. tp : Kata Pena, 2013
Ruhimat, Toto, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Rajawali Press, 2012
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,Jakarta, Kencana : 2006
Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi terbaru, Jakarta, Citra Media Press, t.th.
Uin Suska, Sejarah ringkas, lingkup, dan metode psikologi pendidikan, http://f-class article.blogspot.com/2009_03_01_archive.html