Saturday, February 28, 2015

Maraknya Kemungkaran di Masyarakat

Sejenak marilah kita amati dan cermati keadaan masyarakat kita, mereka tenggelam dalam kemungkaran, kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala di antaranya adanya kasus KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), manipulasi, penipuan, perampokan, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, adanya pasangan zina PIL (pria idaman lain) dan WIL (wanita idaman lain), penyelewengan/penyimpangan seks dan lain sebagainya.

Sehingga kalau kita cermati banyak faktor kenapa kemungkaran-kemungkaran itu dilakukan masyarakat. Di antaranya faktor-faktor tersebut ialah:

Kebodohan Umat Terhadap Ajaran Agama
Masyarakat kita memang mayoritas muslim tetapi mayoritas pula dari mereka tidak tahu dengan ajaran agamanyanya sendiri. Sehingga kita ketahui banyak orang yang mengaku Islam, namun tidak mengetahui apa ajaran Islam itu, apa yang diperintahkan Islam dan apa yang dilarang Islam. Sehingga tidak jarang kita dapati orang yang melakukan kemungkaran namun ia anggap itu hal biasa atau bahkan dianggap sebagai suatu kebenaran. Keadaan seperti ini kalau kita biarkan maka akan terus berlanjut dan masyarakat kita akan tetap tenggelam dalam kubangan lumpur kemungkaran. Tentu kita semua berhasrat merubah keadaan masyarakat kita kepada yang lebih baik dalam takaran syariat Islam. Maka mari kita ajak masyarakat untuk kembali mendalami ajaran dien kembali kepada Islam secara keseluruhan. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya saitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208).

Dan juga marilah kita kembali kepada ajaran Islam yang murni yang utuh yang tidak tercampur dengan syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah kemudian beliau wariskan kepada sebaik-baik generasi, generasi salafus-shalih yaitu para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.

Lemahnya Iman dan Godaan Setan
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang melakukan kemungkaran itu ia tidak tahu bahwa itu adalah kemungkaran akan tetapi ada kalanya karena iman yang lemah sehingga lebih cenderung melakukan kemungkaran dengan anggapan “Ah ini cuma dosa kecil.. ah cuma sekali saja”. Dari sini perlu kiranya kita memperkuat iman kita sehingga mampu menangkis segala kemungkaran dan kemaksiatan. Kita bisa bayangkan betapa indahnya hidup ini bila semua lapisan mempunyai iman yang kuat. Yang menjadi rakyat kecil tidak akan mencuri atau merampok walaupun hidup miskin. Karena ia tahu itu akan mendatangkan siksa Allah. Yang menjadi pedagang tidak akan menipu karena ia tahu bahwa menipu itu dosa. Yang menjadi pejabat tidak akan melakukan KKN, karena mereka tahu Allah akan mengadzabnya kelak.

Sebenarnya kalau kita sadari bahwa ketika iman kita dalam keadaan lemah sehingga mudah sekali digoyahkan maka pada saat itu pula sebenarnya kita sedang diincar oleh musuh. Kita tidak bisa melihat musuh kita sedang ia selalu mengintai kita, musuh kita adalah syaithan. Syaithan yang sudah sejak dulu bersumpah akan selalu menggoda manusia supaya terjerumus ke dalam Neraka Jahanam.

Kemungkaran itu akan terus berlanjut apabila sama-sama kita biarkan. Tentu kita sebagai seorang Muslim tidak boleh tinggal diam. Karena kita diperintahkan untuk mencegah kemungkaran.

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran maka ia harus mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan linsanya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Berbakti Kepada Orang Tua

Sadarilah, orang tua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Untuk menggugah kesadaran kita, sekali-kali bertanyalah kepada mereka. Tanyakan kepada Ibu: “Bagaimana ibu berjuang merawat dan menjagaku sampai sekarang?” Tanyakan kepada bapak: “Bagaimana bapak berjuang keras memenuhi kebutuhanku dari dulu sampai sekarang?”.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang bayi lahir dari rahim ibu? Cobalah kamu cari jawabannya! Sesudah itu renungkan pertanyaan berikut: “Bagaimana aku bisa hidup seperti sekarang ini?”

Keberadaan kita sekarang ini dimulai dari proses yang panjang. Ada yang dimulai dari perbuatan “iseng” antara seorang laki-laki dan perempuan. Maksudnya hanya senang-senang sebelum nikah, tapi Allah mentakdirkannya menjadi anak. Ada yang diawali proses alami setelah menikahnya seorang laki-laki dan perempuan, satu tahun atau dua tahun langsung Allah mentakdirkannya terjadi pembuahan, jadilah anak. Tetapi ada juga anak yang kehadirannya melewati proses yang luar biasa, butuh waktu yang lama dan bertahun-tahun. Orang tua harus menempuh perjalanan yang berliku dan cara-cara luar biasa, dengan berbagai teknik dan perjuangan fisik serta menelan biaya yang tidak sedikit. Itulah yang sering dikatakan sebagai “anak emas”.

Sesudah positif, ibu kita dinyatakan hamil, betapa girangnya orang tua yang memang benar-benar menghendaki kehadiran kita. Sejak saat itu seluruh perhatian dicurahkan kepada kita. Ibu kita selalu menjaga kesehatan dirinya dan diri kita, memperhatikan makanan, berhenti bekerja, rajin merawat diri, tidak boleh stres, dan sebagainya. Betapa capeknya ibu kita seperti yang digambarkan Allah, “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah”. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, dan bawaannya mau muntah terus. Kadang berbuat yang aneh-aneh dan tidak masuk akal. Itulah yang dialami ibu kita ketika “ngidam”.

Bersyukurlah kita semua yang mempunyai orang tua yang bertanggung jawab, ibu yang memberikan asi hingga usia 2 tahun, yang merawat dengan penuh kasih sayang, yang rela melakukan apa saja demi anaknya. Subhanallah!

Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kita jika tidak mendapat perhatian orang tua, seperti bayi-bayi yang dicampakkan  orang tuanya di tempat pembuangan sampah. Betapa pedihnya anak-anak yang tidak mendapat kasih sayang orang tua, ditelantarkan dan di sia-siakan. Kita bisa merasakan bagaimana nestapanya anak-anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang orang tuanya.

Birrul Walidain; Bakti Pada Orang Tua
Taat kepada Allah diwujudkan dengan kewajiban menjalankan ibadah. Taat kepada orang tua diwujudkan dalam kewajiban berbuat baik kepada orang tua, disebut dengan “Birrul Walidain”.

Syekh Mohammad Abdul Rauf Al-Manawi dalam kitab “At-Ta’arif” (definisi-definisi) menjelaskan bahwa yang disebut dengan “Birrul Walidain” yaitu memperluas kebaikan kepada orang tua, memperhatikan yang disukai orang tua, menghindari yang dibenci orang tua, dan berlaku lembut atau sopan kepada orang tua.

Birrul walidain yang paling tinggi nilainya adalah menyambung silaturrahim dengan keluarga dan orang-orang yang disayangi orang tua. Disebutkan dalam sebuah hadits: “Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya birrul walidain yang paling bagus adalah silaturrahim anak kepada orang-orang yang disayang bapaknya. (HR. Muslim)”.

Adapun kewajiban kepada orang tua bisa diwujudkan dalam perlakuan sebagai berikut:

Merawat kedua  orang tua ketika sudah lanjut usia.
Tidak menunjukkan kesalahan dengan kata-kata “ah” atau “uh”.
Tidak membentak dan berlaku kasar.
Mengajak berbicara dengan kata-kata yang memuliakannya.
Lemah lembut kepada mereka dengan penuh kasih sayang.
Mendoakan keduanya supaya tetap dipelihara Allah.
Berjalan dibelakang orang tua.
Tidak duduk sebelum orang tua duduk.
Tidak menyebut nama orang tua, kecuali didahului dengan panggilan kehormatan.
Tidak mengumpat.
Menemaninya dengan baik.
Disebutkan dalam sebuah hadits: “Dari Abu Hurairah berkata: Termasuk hak orang tua atas anaknya, yaitu anak tidak boleh berjalan di depannya, tidak duduk sebelum orang tuanya duduk, tidak boleh memanggil dengan namanya, dan tidak boleh mengundang umpatan untuknya”.

Menghayati Makna Ibadah

Kemajuan sains dan teknologi semestinya makin menambah kesyukuran dan ketundukan kepada Sang Pencipta. Yang terjadi justru sebaliknya, makin banyak nilai-nilai yang tergeser. Memang, kemajuan ilmu pengetahuan yang tanpa didasari iman, akan mengantarkan manusia pada perilaku yang menyimpang, melakukan penghambaan diri terhadap akal. Akal kerap kali diposisikan di atas segala-galanya.

Agama yang semestinya menjadi kebutuhan mendasar bagi rohani malah dianggap penghambat kemajuan zaman. Manusia-manusia cerdik tapi tak beriman itu tidak memahami tujuan keberadaannya di dunia ini: beribadah kepada Allah SWT.

Ibadah yang merupakan kebutuhan asasi rohani manusia hanya diidentikan dengan symbol-simbol lahir semata. Tidak sedikit dari umat ini yang belum menyadari urgensi ibadah. Banyak kalangan muda begitu gampang berseloroh, bahwa ibadah itu urusan lima puluh tahun ke atas. Bahkan, sebagian orang tua yang ikut-ikutan, mengidentikan bahwa ibadah sebatas di Mesjid. Sedang di luar, orang bebas berbuat apa saja. Lebih tragis lagi, ada anggapan biarlah masa muda dipuaskan dengan maksiat, di masa tua tinggal taubat. Boleh jadi ungkapan tersebut hanya sebatas gurauan semata. Tapi, boleh jadi ia juga dimaksudkan serius. Tak pelak, fenomena ini makin melahirkan insane-insan yang bermental hipokrit, hubbud dunya wa karahiyatul maut (cinta dunia dan takut mati).

Setiap individu muslim harus mengerti tujuan ibadah secara universal. Tentu saja, itu dilakukan dalam rangka memperjelas arah visi dan misi muslim dalam mengarungi bahtera keidupan dunia ini. Hal ini juga ditujukan untuk makin meningkatkan kualitas spiritual.

Secara sederhana, ibadah seorang muslim yang dilakukan sehari-hari mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah: Pertama, sebagai santapan rohani manusia. Manusia dalam mencapai kebutuhannya tidak saja terkait dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, tetapi lebih esensial lagi, ia terkait erat dengan kebutuhan fundamental dan substansial: ruhiyah. Bila kebutuhan manusia yang satu ini terpenuhi secara baik dan proporsional, maka manusia akan menemukan kehidupan dan kemuliaan hakiki dalam hidup ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kebutuhan ruhiyah bagi setiap manusia tidak dapat dielakkan lagi. Secara fitri dan nurani, manusia membutuhkan sandaran vertical pada Sang Pencipta. Itu hanya bias diimplementasikan melalui aktualisasi ‘ibadah’. Karenanya, hati manusia tak kan pernah baik, tentram dan bahagia, kecuali bila kedekatannya senantiasa ditautkan degan Rabbul ‘alamin.”

Kedua, ibadah  jalan kebebasan. Orang sering salah kaprah dalam menyikapi makna “kebebasan”. Agama (Islam) oleh sebagian orang modern dianggap mengikat kebebasan hak asasi manusia. Padahal bila dicermati dengan seksama, ideology-ideologi itulah yang menjadikan manusia terbelenggu dalam kehidupan ini. Konsep-konsep ideology buatan manusia telam menjerumuskan manusia ke dalam penghambaan diri kepada thagut.

Ketiga, ibadah menempa keunggulan manusia dalam menghadapi tantangan hidup ini. Kehidupan riil dunia yang kita jalani pada hakikatnya bukanlah tujuan dan tempat perjhentian terakhir. Ia hanyalah “terminal transit” menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Ini menjadi keyakinan fundamental bagi setiap individu muslim. Dalam mengarungi bahtera yang luas ini, banyak aral yang harus dihadapi manusia. Untuk itu, Allah Swt melalui Rasul-Nya menggariskan syari’at ibadah sebagai sarana penempaan diri dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Keempat, ibadah adalah hak Allah SWT terhadap hamba-Nya. Dengan merenungi sejenak tentang keberadan kita sebagai manusia dapat menjadikan kita rendah hati. Tak dapat dipungkiri, sebagai manusia kita mengalami suatu fase di mana dahulu kita belum menjadi “sesuatu”, lalu dengan kekuasaan-Nya Dia menjadikan kita sebagai “sesuatu”. Setelah kita lahir ke dunia, eksistensi kita makin diperkuat oleh Allah Swt sebagai yang termulai dan mempunyai wibawa tinggi di antara makhluk-makhluk lainnya. Sebagai manusia, kita diciptakan dalam bentuk rupa yang baik. Dengan karunia akal, Allah menjadikan manusis sebagai makhluk unggulan. Ini adalah karunia besar yang harus disyukuri. Sebagai bukti rasa syukur itu, kita wajib memenuhi hak Allah dengan semestinya, beribadah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Sebab, ibadah itu merupakan hak Khaliq (Sang Pencipta) yang sifatnya muytlak atas seluruh hamba-Nya.

Muadz bin Jabal ra meriwayatkan, “Aku pernah berboncengan dengan Nabi Saw dalam berkendaraan. Lalu beliau bersabda kepadaku, “Wahai Muadz! Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-Nya? Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda, “Hak Allah atas hamba-Nya adalah ia beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemahaman yang baik terhadap berbagai tujuan ibadah ini dapat menegaskan kesadaran kita tentang tujuan hidup di dunia. Agar kita termasuk dalam hamba-Nya yang pandai bersyukur. Semoga.

Pendidikan Akhlak Mulia dan Budi Pekerti Bagi Anak

Anak adalah buah cinta, tambatan hati, belahan jantung, hiasan hidup dan penyejuk mata memandang. Anak menjadi pelipur lara dan penawar duka. Jika anak berhasil, banggalah orang tua, tidak sia-sia perjuangannya. Jika anak berprestasi, beban yang berat menjadi ringan seketika.

Jika anak bisa mandiri, rajin shalat, pandai bergaul, tidak terlibat perbuatan tercela, kreatif, dan inovatif, orang tua mana yang tidak berbahagia. Ibarat memelihara tanaman yang sehat tumbuh subur itu, semangat hidup seseorang menjadi berkobar, ingin bisa memenuhi seluruh keperluan anak, ingin rasanya hidup lebih lama lagi. Kalaupun Allah mentakdirkan umur orang tua tidak panjang, orang tua merasa telah menunaikan amanah, tidak ada kekhawatiran di hadapan Allah. Orang tua ikhlas dan ridha menghadap Khaliq, karena anak pasti akan mendoakannya.

Sebaliknya jika anak “mursal” susah dikendalikan dan bikin onar, orang tualah yang menderita. Jika anak terlibat perbuatan amoral, asusila, atau pelanggaran hukum, malu orang tua tak terlukiskan, sama anak melempar tinja ke muka orang tua. Sungguhpun demikian, anak tetaplah anak, kasih sayang orang tua tidak akan rontok diterjang badai.

Untuk mengantarkan anak menjadi orang yang “shaleh, sukses, dan akram”, dapat dibanggakan orang tua, maka pendidikan dasar menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Pendidikan dasar dimaksud adalah pendidikan yang telah diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.

Pendidikan sungguh sangat kita aktualisasikan sekarang ini. Lebih-lebih di saat globalisasi makin nampak pengaruh negatifnya. Fakta yang kita baca tiap hari, anak-anak dan generasi muda, masa depannya dihadapkan pada situasi yang cukup berat.

Contoh lebih utama
Mendidik bukan hanya sekedar memberi nasihat, menuliskan kata-kata bijak, mengajari anak-anak bisa membaca, menulis dan berhitung, atau mentransfer ilmu pengetahuan. Seperti Lukman Al-Hakim, orang tua harus bisa memotivasi, menjual ide-ide dan harapan, meyakinkan, memancing munculnya gagasan-gagasan brilian, menawarkan alternatif pilihan, dan membuka cakrawala pikiran anak.

Mendidik juga berarti mengarahkan, membangkitkan gairah belajar, merangsang timbulnya kreatifitas, mendorong diketemukannya potensi dan kemampuan anak didik. Sisi kognitif yang dipancarkan oleh otak sebelah kiri memang penting, tetapi sisi imajinatif ayang dipancarkan oleh otak kanan juga sangat penting. Keduanya harus dieksplorasi secara seimbang, supaya tidak pincang.

Mungkin karena hanya satu sisi yang menjadi fokus pendidikan, yaitu otak kiri saja, maka tidaklah heran jika perguruan tinggi yang ada di negeri ini hanya meluluskan sarjana-sarjana yang mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan, meminta jasa bukan membuat jasa. Banyak sarjana dan banyak orang pintar tetapi tidak punya kreativitas. Albert Einstein berkata: “ILMU TANPA IMAJINASI TIDAK ADA GUNANYA”.

Lebih dari itu, tidak kalah pentingnya, guru dan orang tua harus memberi teladan. Orang tua atau guru akan memiliki kharisma tinggi dan didengar kata-katanya oleh anak-anak, manakala dirinya sendiri sudah melakukan sebelum menyuruh anak untuk melakukannya.

Ajarkan cara dan sikap hidup yang kongkrit dan nyata. Jika melihat ada kotoran di sekolah, guru tidak cukup hanya menyuruh, namun guru harus mengajak murid untuk mengambilnya. Mengajak berarti memulai terlebih dahulu, bukan memerintah. Dengan sikap dan perbuatan nyata, berarti guru dan orang tua telah membuka jalan pikirannya. Anak-anak akan tertarik mengikutinya dan terbangkitnya potensi dirinya, manakala guru dan orang tua bisa mencairkan kebekuan yang dialaminya. Dan itu terjadi dengan contoh dan visualisasi. Kesan yang ditimbulkan oleh contoh nyata dan visualisasi akan tertanam dalam memori anak dan bertahan lama, bahkan sampai tua tidak akan terlupakan. Anak-anak butuh contoh, bukan kata-kata tanpa fakta.

Jangan asal menasehati
Mahatma Ghandi seorang tokoh pejuang kemerdekaan India, ketika diminta menasehati anak yang suka makan permen, dia tidak mau, dia meminta waktu sekian hari lagi untuk memberi nasehat.

“Pak, tolong nasehati anak saya ini! Dia suka makan permen, susah dicegah”, kata seorang ibu kepada Mahatma Ghandi.

“Ibu… sekarang saya belum bisa menasehati anak ibu! Tunggu dua minggu lagi, nanti ajak anak ibu datang kemari”, jawab Mahatma Ghandi.

Dua minggu kemudian, sang ibu bersama anaknya datang menghadap Mahatma Ghandi. Baru di situlah Mahatma Ghandi memberi nasehat: “Nak… kamu jangan makan permen ya…! Nanti gigi kamu bisa rusak”.

Hanya kata-kata seperti itulah yang keluar dari mulut Mahatma Ghandi. Tetapi kenapa harus menunggu sampai dua minggu? Ketika ditanya, kenapa musti menunggu sekian hari? Mahatma Ghandi menjawab: “Bagaimana saya memberi nasehat anak ibu untuk tidak makan permen, sedangkan saya sendiri masih suka makan manisan. Saya harus meninggalkan dulu untuk tidak makan manisan, saya harus melakukan terlebih dahulu sebelum saya menyuruh orang lain untuk melakukan, dan saya harus tahu apa alasannya menyuruh orang untuk berhenti meninggalkan sesuatu”.

Agar Doa Cepat Terkabul

Do’a merupakan bagian ibadah dan berpahala tentunya. Tidak ada satu ibadah pun tanpa berdo’a. Do’a mempunyai kekuatan yang luar biasa yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal manusia. Dengan berdoa, perkara sesulit apapaun dapat berubah menjadi mudah.

Manusia dalam kehidupannya membutuhkan sandaran untuk setiap masalah yang dihadapinya dan tidak mungkin setiap usaha bisa berhasil tanpa adanya doa.

Akan tetapi tidak semua do’a bernilai ibadah dan berpahala serta dapat dikabulkan oleh Allah SWT sebab terdapat kesalahan atau kekeliruan serta kurangnya adab berdo’a yang baik yang dapat menyebabkan doa tersebut tidak langsung dikabulkan. Dan sangatlah penting setiap muslim mengetahui aturan-aturan ataupun  syarat-syarat serta tata cara berdoa yang baik, bahkan setiap muslim haruslah mengetahui kapan waktu yang ijabah agar doanya dapat terkabul.

Do’a kita ingin pastinya ingin cepat terkabul bukan? Setidaknya kita harus memperhatikan beberapa hal agar doa kita ingin cepat terkabul.

Mengetahui waktu/hari yang mustajab untuk berdo’a. Diantaranya adalah saat tutun hujan, antara adzan dan iqamah, selesai shalat fardhu, hari jum’at, bulan Ramadhan, waktu sahur, dan sepertiga malam.
Lemah lembut ketika berdoa. Suara tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu pelan.
Tidak dinyanyikan dan dilakukan secara khusyu dan tawadhu.
Yakin dalam hati bahwa doa yang kita panjatkan suatu saat pasti akan dikabulkan.
Sabar dan tidak terputus dalam berdoa. Artinya doa dilakukan secara kontinyu apabila kita menginginkan doa kita terkabul, dan menghindari prasangka bahwa doa kita tidak akan dikabulkan.
Setiap doa diawali dengan sanjungan terhadap Allah SWT, shalawat bagi Nabi Muhammad SAW, dan ucapan rasa syukur (Hamdallah).
Memohon ampunan serta memperbanyak taubat atas dosa-dosa yang kita perbuat.
Jangan ragu-ragu akan terkabulnya doa yang kita panjatkan. Janji Allah sudah pasti, tetapi dalam bentuk dan cara yang berbeda sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Yakinlah Allah akan membantu, Allah akan membereskan, karena Ia pemilik alam semesta ini.

Fenomena Berdo’a di Media Sosial dalam Pandangan Islam

Dari pelosok desa hingga ke daerah perkotaan setiap orang tentunya sudah mengetahui apa itu media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Selain digunakan sebagai alat komunikasi satu sama lain baik komunikasi antar keluarga, teman, atau digunakan sebagai media online dalam bisnis, ternyata media sosial ini sudah berganti fungsi menjadi tempat curhat, yang biasanya dilakukan oleh orang yang notabene masih ababil. Selain itu, ternyata media sosial pun oleh sebagian orang digunakan sebagai tempat untuk berdo’a.

Lantas bagaimana fenomena tersebut dalam pandangan Islam? Sebenarnya tidak ada larangan untuk curhat atau berdoa di media sosial karena dulu zaman Rasulullah SAW belum ada yang dinamakan dengan media sosial yang sedang booming dan nge-trend seperti sekarang ini. Namun sebagai agama yang terakhir dan berlaku sampai akhir zaman sudah lama memprediksi akan adanya fenomena media sosial yang trend saat ini.

Hendaklah kalian mengadukan segala urusan kepada Allah saja, walaupun itu hanya sandal yang putus.
HR. Tirmidzi

Hadits tersebut di atas adalah panduan bagi seorang Facebooker atau media sosial addict muslim lainnya yang biasanya berdo’a atau curhat urusan-urusan sepele dalam media sosial, karena biasanya mereka mencurahkan segala hal yang sepele sekalipun dalam media sosial.

Dalam Islam, hendaknya curhat atau berdo’a itu hanya kepada Allah sahaja. Sebab, apabila kita melakukan curhat atau berdo’a di media sosial tersebut akan berpotensi menjadi riya’, syirik kecil, ingin diperhatikan dan dipuji oleh orang lain, yang pada akhirnya dikhawatirkan akan menduakan Allah. Dan jelas hal itu sudah bertentangan dengan aturan berdoa yang diajarkan dalam Islam.

Dalam Islam, berdoa itu harus disertai dengan niat tulus dan ikhlas mengharap ridha Allah semata. Jika kita berdoa hanya karena ingin mendapat perhatian dan pujian semata, maka hal tersebut bertentangan dan dilarang dalam ajaran Islam. Karena Islam menegaskan bahwa dalam setiap doa yang kita panjatkan harus ikhlas, semata-mata karena Allah, tidak disertai dengan niat-niat lainnya yang berujung kepada riya’.

Alangkah baiknya kita menghindari berdoa dalam wall/dinding media sosial, karena perbuatan tersebut juga menyerupai perbuatan orang Yahudi yang berdoa di dinding/tembok ratapan. Sedangkan apabila seorang muslim menyerupai pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan oleh umat agama lainnya maka mereka termasuk dalam golongan agama tersebut yang sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits-hadits Nabi SAW.

Alangkah bermanfaat jika media sosial yang ada sekarang ini kita gunakan untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan, menyebarkan informasi-informasi yang inspiratif dan bermanfaat bagi khalayak ramai. Atau bahkan digunakan sebagai wahana untuk melakukan bisnis yang menghasilkan keuntungan. Wallahu a’lam.

Memperlihatkan Aurat di Media Sosial

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan berita yang menyeret seorang mahasiswi yang berinisial RA, mahasiswi salah satu jurusan Perbandingan Mazhab dan hukum di salah satu Universitas di Bandung ini tersandung kasus foto-foto dirinya yang beredar tanpa sehelai benang pun.

Sejatinya dengan adanya media sosial yang sedang trend sekarang ini membawa dampak positif bagi siapa saja yang menggunakannya. Tidak dapat dipungkiri media sosial tersebut memberi andil yang begitu besar dan bermanfaat. Dengan media sosial kita bisa bersilaturahim, melakukan bisnis, memberikan informasi inspiratif dan penting, bahkan memberikan kritikan pada pemerintah.

Berkembangnya teknologi informasi di era globalisasi sekarang ini semakin membuat dunia maya semakin ramai dikunjungi. Media jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, Path, dan yang lainnya tak pernah sepi pengunjung sebab pemilik akun akan terus mengakses media sosial tersebut. Begitu juga dengan situs chatting seperti Skype atau Yahoo Messenger atau situs blogging seperti Blogger dan WordPress.

BACA JUGA : Fenomena Berdo’a di Media Sosial dalam Pandangan Islam

Maraknya fenomena media sosial ini pada akhirnya memunculkan banyak masalah,  salah satu masalah yang ditemui adalah banyaknya akun di media sosial yang menampilkan foto-foto yang menampakkan aurat bahkan memperlihatkan foto-foto yang mengandung unsur pornografi. Facebook salah satunya, tidak sedikit orang  yang memperlihatkan auratnya.

Memang melihat aurat secara tidak langsung berbeda dengan melihat aurat secara langsung. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan hampir sama. Orang yang melihat gambar aurat mungkin saja akan tergoda untuk melakukan perbuatan zina.

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.
QS. Al-Isra : 32

Memperlihatkan atau memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihat aurat kita sama saja dengan menjerumuskan orang lain pada zina. Dan tidak sepantasnya seorang muslim memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukan kemaksiatan.

Selayaknya sebagai seorang muslim yang baik dan taat agar berhenti dalam memperlihatkan gambar-gambar atau foto-foto yang mengumbar aurat, karena hal tersebut dapat merusak mental generasi muda. Sedikitnya ada tiga dosa yang tanpa disadari telah dilakukan dengan memperlihatkan aurat kita dalam media sosial.

Dosa karena memperlihatkan aurat. Sudah jelas memperlihatkan aurat ini merupakan dosa besar. Menutup aurat dalam Islam adalah hal yang mutlak dan sangat jelas hukumnya.
Dosa karena mengundang orang lain berbuat dosa.
Dosa karena memamerkan perbuatan dosanya. Memasang gambar atau foto yang memperlihatkan aurat berarti memamerkan perbuatan dosanya.
Memperlihatkan aurat pada media sosial bukanlah hal yang bisa kita anggap sepele. Bahkan ada yang mengatakan kalau memperlihatkan aurat dalam media sosial sama dengan melakukan dosa selama 24 jam penuh. Dosa tersebut akan dicatat oleh Malaikat selama ada yang melihat foto yang memperlihatkan aurat tersebut, sekalipun kita tidak sedang mengakses akun media sosial milik kita sendiri.

Bahkan yang paling dikhawatirkan adalah dosa memperlihatkan aurat dalam media sosial tersebut menjadi dosa warisan ketika seseorang meninggal dunia nantinya yang tidak akan berhenti dosa tersebut selama gambar atau foto yang ada dalam media sosial tersebut tidak kita hapus. Naudzubillah.

Korupsi dalam Perspefktif Islam

Melihat keadaan sekarang ini, banyak sekali orang yang melakukan perbuatan yang sangat tercela dan keji ini. Bahkan kita dapat kita jumpai dalam semua lapisan masyarakat, mulai masyarakat kelas bawah, kelas menengah, sampai kelas atas sekalipun. Masyarakat bahkan dapat menggolongkan pelaku korupsi ini menjadi beberapa tingkat. Mulai dari koruptor kelas teri sampai kelas kakap.

Misalnya dalam ruang lingkup masyarakat kelas bawah, mungkin kita pernah mendapati seseorang yang mendapat tugas untuk membeli sebuah barang, kemudian setelah dibelikan barang, uang yang diberikan masih ada sisanya, dia tidak memberitahu kalau uang tersebut tersisa dan masuk ke dalam sakunya meskipun hanya satu sen. Adapun koruptor kelas kakap, mereka tidak tanggung-tanggung melakukan korupsi sampai milyaran bahkan triliyunan rupiah.

Begitu pula yang terjadi di Indonesia, korupsi sudah mendarah daging bahkan sudah menjadi suatu seni, yaitu seni berkorupsi. Koruptor tidak hanya sekedar meraup uang Negara, tetapi mereka juga sudah sampai dalam tahap bagaimana mengemas hasil korupsi tersebut agar KPK pun susah membedakan mana yang hasil korupsi dan yang bukan.

Hukum korupsi, menurut pandangan Ulama Fiqih, secara aklamasi dan konsensus (ijma’) adalah haram, karena merugikan kepentingan umum. Keharaman perbuatan korupsi dapat ditinjau dari berbagai segi, diantaranya:

Korupsi adalah perbuatan curang dan penipuan yang berpotensi merugikan keuangan negara dan kepentingan masyarakat yang dikecam oleh Allah SWT dalam surah Al-Imran ayat 161 dengan hukuman setimpal di akhirat.

Korupsi berupa penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang untuk memperkaya diri merupakan pelanggaran terhadap amanat. Mengkhianati amanat adalah salah satu karakter orang munafik yang dibenci Allah SWT sehingga hukumnya adalah haram (Q.S Al-Anfaal: 27 dan An-Nisaa: 58).

Korupsi untuk memperkaya diri dan orang lain adalah perbuatan zalim, karena kekayaan negara adalah harta yang berasal dari keringat orang-orang kecil dan miskin. Perbuatan zalim ini patut mendapatkan azab yang pedih (Q.S Az-Zhukruf: 65).

Korupsi dapat menimbulkan dampak yang sangat luar biasa buruk bagi suatu bangsa dan negara. Maka pencegahan dan penanggulangannya harus dilakukan secara serius dan terpadu antara seluruh komponen bangsa.

Memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah adalah jalan keluar dari persoalan korupsi ini, karena apabila setiap muslim betul-betul yakin akan ajaran agamanya maka ia akan mematuhi ajaran Islam dan takut melakukan korupsi tersebut.