Tuesday, December 18, 2012
Monday, December 17, 2012
Sunday, December 16, 2012
PENDIDIKAN AKHLAK MULIA DAN BUDI PEKERTI
“Muliakanlah anak-anakmu,
baguskan budi pekerti dan peradabannya”.
(HR. Ibnu Majah)
“Bantulah anak-anakmu untuk
meraih kebajikan/prestasi”.
(HR. Ath-Thabari)
Anak
adalah buah cinta, tambatan hati, belahan jantung, hiasan hidup, dan penyejuk
mata memandang. Anak menjadi pelipur lara dan penawar duka. Jika anak berhasil,
banggalah orang tua, tidak sia-sia perjuangannya. Jika anak berprestasi, beban
yang berat menjadi ringan seketika. Jika anak bisa mandiri, rajin shalat,
pandai bergaul, tidak terlibat perbuatan tercela, kreatif, dan inovatif, orang
tua mana yang tidak berbahagia. Ibarat memelihara tanaman yang sehat tumbuh
subur itu, semangat hidup seseorang menjadi berkobar, ingin bisa memenuhi
seluruh keperluan anak, ingin rasanya hiduplebih lama lagi. Kalaupun Allah
menakdirkan umur orang tua tidak panjang, orang tua merasa telah menunaikan
amanah, tidak ada kekhawatiran di hadapan Allah. Orang tua ikhlas dan ridha
menghadap Khaliq, karena anak pasti akan mendoakannya.
Sebaliknya
jika anak “mursal” susah dikendalikan dan bikin onar, orang tualah yang
menderita. Jika anak terlibat perbuatan amoral, asusila, atau pelanggaran
hukum, malu orang tua tak terlukiskan, sama anak melempar tinja ke muka orang
tua. Sungguhpun demikian, anak tetaplah anak, kasih sayang orang tua tidak akan
rontok diterjang badai.
Untuk
mengantarkan anak menjadi orang yang “shaleh, sukses, dan akram”, dapat
dibanggakan orang tua, maka pendidikan dasar menjadi kewajiban yang tidak boleh
diabaikan. Pendidikan dasar dimaksud adalah pendidikan yang telah diabadikan
oleh Allah Swt dalam Al-Quran.
Pendidikan
sungguh sangat kita aktualisasikan sekarang ini. Lebih-lebih di saat
globalisasi makin nampak pengaruh negatifnya. Fakta yang kita baca tiap hari,
anak-anak dan generasi muda, masa depannya dihadapkan pada situasi yang cukup
berat.
A.
Contoh
Lebih Utama
Mendidik bukan hanya sekedar memberi
nasihat, menuliskan kata-kata bijak, mengajari anak-anak bisa membaca, menulis
dan berhitung; atau mentransfer ilmu pengetahuan. Seperti Lukman Al-Hakim,
orang tua harus bisa memotivasi, menjual ide-ide dan harapan, meyakinkan,
memancing munculnya gagasan-gagasan brilian, menawarkan alternatif pilihan, dan
membuka cakrawala pikiran anak. Mendidik juga berarti mengarahkan,
membangkitkan gairah belajar, merangsang tmbulnya kreatifitas, mendorong
diketemukannya potensi dan kemampuan anak didik. Sisi kognitif yang dipancarkan
oleh otak sebelah kiri memang penting, tetapi sisi imajinatif ayang dipancarkan
oleh otak kanan juga sangat penting. Keduanya harus dieksplorasi secara
seimbang, supaya tidak pincang. Mungkin karena hanya satu sisi yang menjadi
fokus pendidikan, yaitu otak kiri saja, maka tidaklah heran jika perguruan
tinggi yang ada di negeri ini hanya meluluskan sarjana-sarjana yang mencari
pekerjaan, bukan menciptkan pekerjaan, meminta jasa bukan membuat jasa. Banyak
sarjana dan banyak orang pintar tetapi tidak punya kreativitas. Albert Einstein
berkata: “ILMU TANPA IMAJINASI TIDAK ADA GUNANYA”.
Lebi dari itu, tidak kalah pentingnya, guru
dan orang tua harus memberi teladan. Orang tua atau guru akan memiliki kharisma
tinggi dan didengar kata-katanya oleh anak-anak, manakala dirinya sendiri sudah
melakukan sebelum menyuruh anak untuk melakukannya.
Ajarkan cara dan sikap hidup yang kongkrit
dan nyata. Jika melihat ada kotoran di sekolah, guru tidak cukup hanya
menyuruh; tetapi guru harus mengajak murid untuk mengambilnya. Mengajak berarti
memulai terlebih dahulu, bukan memerintah. Dengan sikap dan perbuatan nyata,
berarti guru dan orang tua telah membuka jalan pikirannya. Anak-anak akan
tertarik mengikutinya dan terbangkitnya potensi dirinya, manakala guru dan
orang tua bisa mencairkan kebekuan yang dialaminya. Dan itu terjadi dengan
contoh dan visualisasi. Kesan yang ditimbulkan oleh contoh nyata dan
visualisasi akan tertanam dalam memori anak dan bertahan lama, bahkan sampai
tua tidak akan terlupakan. Anak-anak butuh contoh, bukan kata-kata tanpa fakta.
B.
Jangan
Asal Menasehati
Mahatma Ghandi seorang tokoh pejuang
kemerdekaan India, ketika diminta menasehati anak yang suka makan permen, dia
tidak mau, dia meminta waktu sekian hari lagi untuk memberi nasehat.
“Pak, tolong nasehati anak saya ini! Dia
suka makan permen, susah dicegah”, kata seorang ibu kepada Mahatma Ghandi.
“Ibu... sekarang saya belum bisa menasehati
anak ibu! Tunggu dua minggu lagi, nanti ajak anak ibu datang kemari”, jawab
Mahatma Ghandi.
Dua minggu kemudian, sang ibu bersama
anaknya datang menghadap Mahatma Ghandi. Baru di situlah Mahatma Ghandi memberi
nasehat: “Nak... kamu jangan makan permen ya...! Nanti gigi kamu bisa rusak”.
Hanya kata-kata seperti itulah yang keluar
dari mulut Mahatma Ghandi. Tetapi kenapa harus menunggu sampai dua minggu?
Ketika ditanya, kenapa musti menunggu sekian hari? Mahatma Ghandi menjawab:
“Bagaimana saya memberi nasehat anak ibu untuk tidak makan permen, sedangkan
saya sendiri masih suka makan manisan. Saya harus meninggalkan dulu untuk tidak
makan manisan, saya harus melakukan terlebih dahulu sebelum saya menyuruh orang
lain untuk melakukan, dan saya harus tahu apa alasannya menyuruh orang untuk
berhenti meninggalkan sesuatu”. Sungguh luar biasa. Bukankah Allah Swt telah
berfirman:
uã92 $ºFø)tB yYÏã «!$#
br& (#qä9qà)s?
$tB w
cqè=yèøÿs?
Artinya:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa
kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash-Shaf: 3)
Arti Akhlak
Akhlaq adalah budi pekerti yang bersumber
dari “khaliq”. Akhlak disertakan oleh Allah bersamaan pada awal penciptaan
manusia. Itu sebabnya, akhlak bersifat universal; artinya semua orang pasti
sepakat dan tidak ada yang menolak akan nilai kebaikan dan kebenaran yang
terkandung di dalamnya, walaupun lahiriah setiap orang berbeda-beda agama dan
kepercayaannya. Akhlak berasal dari Tuhan dan sangat sesuai dengan tabiat
manusia. Akhlak adalah fitrah. Dan fitrah itu sendiri adalah agama yang dibawa
oleh para Rasul. Allah Swt berfirman:
èt
Artinya:
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 30)
Siapapun mempunyai penilaian yang sama
dalam akhlak, seperti jujur, adil, amanah, bakti pada orang tua, hormat dan
menghargai, patuh pada ketentuan, rela berkorban, menyembah Tuhan, menolak
kebatilan, menolong, rasa belas kasihan, berani karena kebenaran, malu karena
keburukan, mencintai dan dicintai, lemah lebut, benci kekerasan, dan
sebagainya. Semua itu adalah bagian dari akhlak manusia secara umum, baik
terhadap sesama muslim maupun non muslim.
Akhlak bukanlah perilaku atau yang di dalam
bahasa Arabnya disebut “suluk”. Perilaku seseorang juga bisa menjadi akhlak,
manakala dilakukan secara terus menerus. Jika baik disebut “akhlak mahmudah”,
jika buruj disebut “akhlak madzmumah”.
Perilaku itu sendiri sangat dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar
(eksternal).
Faktor dari dalam adalah faktor yang dibawa
sejak lahir, sering disebut “genetik”. Faktor genetik bisa menjadi kekuatan
yang dahsyat manakala bisa diasah, dikembangkan dan dikelola dengan baik.
Faktor genetik ini terdiri dari:
1.
Kecerdasan, yaitu
kemampuan menganalisa dan menangkap informasi.
2.
Bakat, yaitu
kepandaian atau keterampilam yang menurun dari orang tua, atau pendahulunya.
3.
Tempramen, yaitu
sifat buruk bawaan yang tidak bisa dirubah, tetapi bisa ditutupi dengan yang
lain, atau dikurangi.
Faktor dari luar,
dan inilah yang justru paling besar pengaruhnya bagi seseorang. Faktor dari
luar terdiri dari:
a.
Lingkungan.
b.
Pendidikan.
c.
Pengalaman.
Kita akui, hidup kita yang sekarang ini
adalah pengaruh dari luar, dari pendidikan, dari pengalaman, dan dari
lingkungan. Kita bisa tahu bakat dan potensi diri kita setelah sekian lama
berinteraksi dengan dunia luar dan bergabung dengan para ahli. Pikiran-pikiran
kita, ide-ide kita, dan gagasan-gagasan kita muncul setelah sekian banyak menyerap
informasi, bergulat dengan pengalaman, dan berbaur dengan lingkungan dimana
kita berada. Maka kalau mau maju, bergaulah dengan orang maju. Kalau mau sukses
bergaulah dengan orang sukses. Pilihlah lingkungan masyarakat yang berpikiran
maju, masyarakat yang berperadaban mulia dan punya disiplin tinggi. Belajarlah
dimana saja dan apa saja yang membuat kita maju, dan banyaklah berbuat.
MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL
Secara umum media merupakan kata jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, sepeti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet, atau panas dalam bidang teknik. Istilah media jug digunakan dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pengajaran.
Selain pengertian di atas, ada juga yang berpendapat bahwa media pengajaran meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti overhead projector, radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkansoftware adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat pada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetak lainnya, serita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan lain sebagainya (Wina Sanjaya, 2009: 163).
Perkembangan zaman dapat ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Karena itu dalam proses belajar mengajar perlu juga dikembangkan cara-cara mengajar dengan mempergunakan media pembelajaran audio visual. Metode mengajar ini dikembangkan karena di zaman modern ini siswa dituntut untuk menguasai teknologi tak terkecuali teknologi pendidikan. Selain itu juga karena derasnya arus informasi baru yang mengalir dari berbagai sumber, maka penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu cara untuk menampung segenap informasi yang tersedia.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 120) kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Menurut Arsyad (2007: 3) media adalah alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan, penangkap pesan, dan penyusun informasi.
Media audio menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 124) adalah media yang berkaitan dengan indera pendengaran, di mana pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam, laboratorium bahasa. Jadi media audio adalah media yang hanya berkaitan dengan indera pendengaran penerima pesan atau informasi.
Media audio merupakan media yang fleksibel karena bentuknya yang mudah dibawa, praktis, dan relatif murah. Media audio adalah media yang hanya dapat didengar saja atau berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal (M Sobry dan Ida Rosyidah, 2009: 45).
Media visual menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 124) adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film bingkai), slides (film bingkai), foto, gambar, atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun. Media ini merupakan kebalikan dari media audio, media ini hanya mengandalkan indera penglihatan penerima pesan atau informasi.
Adapun media audio visual menurut Sudjana dan Rivai (2007: 58) adalah sejumlah peralatan yang dipakai oleh guru dalam menyampaikan konsep, gagasan, dan pengalaman yang ditangkap oleh indera pandang dan pendengaran. Penekanan utama dalam pengajaran audio visual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman konkret tidak didasarkan atas kata-kata belaka.
Menurut M Sobry Sutikno dan Ida Rosyidah (2009: 19) media visual adalah media yang dapat dilihat dengan panca indera. Media visual merupakan hal yang sangat penting untuk diperkenalkan dan dipergunakan oleh guru ketika membelajarkan siswanya.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 125) media audio visual dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Media audio visual gerak, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara.
2. Media audio visual diam, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette.
Pembagian lain dari media audio visual adalah Djamarah (2006: 126):
1. Audio visual murni, yaitu baik unsur suara dan unsur gambar berasal dari sumber yang sama, seperti film video cassette.
2. Audio visual tidak murni, yaitu unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder.
Media ini merupakan media yang menggabungkan dua indera dalam meneriam informasi atau pesan, yaitu indera pendengaran dan indera penglihatan. Media ini tidak hanya menggunakan perangkat suara tetapi juga menggunakan media display atau gambar dalam penyampaian pesan atau informasi.
Penggunaan media pembelajaran sangat bergantung pada tujuan pembelajaran, bahan ajar, kemudahan memperoleh media serta kemampuan guru dalam menggunakannya dalam proses pengajaran.
FUNGSI MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN
Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang kongkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan di balik realitas. Karena itu, media memiliki andil untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan menunjukan hal-hal yang tersembunyi. Ketidak jelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran (Pupuh Fathurrohman dan M Sobry Sutikno, 2009: 65).
Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan dengan esensi tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Melalui penggunaan media pembelajaran audio visual diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas prestasi belajar siswa.
Menurut M Sobry (2008: 102 - 103) Bahwa ada beberapa fungsi penggunaan media dalam proses belajar mengajar, di antaranya:
a. Menarik perhatian siswa;
b. Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran;
c. Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan);
d. Mengatasi keterbatasi ruang;
e. Pembelajaran lebih komunikatif dan prodiktif;
f. Waktu pembelajaran bisa dikondisikan;
g. Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar;
h. Meningkatkan motivasi siswa yang mempelajari sesuatu/menimbulkan gairah belajar;
i. Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam, serta;
j. Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Jelaslah bahwa media audio visual merupakan media yang sebaiknya digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Media merupakan salah satu metode untuk memperoleh kemudahan ketika proses pembelajaran dirasakan menemui kerumitan dan kebosanan dalam pembelajaran.
Menurut Wina Sanjaya (2009: 169), secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi dan peran untuk:
a. Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film, atau direkam melalui video atau audio, kemudian perstiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala diperlukan. Guru dapat menjelaskan proses terjadinya gerhana matahari yang langka melalui hasil rekaman video. Atau, bagaimana proses perkembangan ulat menjadi kupu-kupu; proses perkembangan bayi dalam rahimdari mulai sel telur dibuahi hingga menjadi embrio dan berkembang menjadi bayi. Demikian juga dalam pelajaran IPS guru dapat menjelaskan bagaiman terjadinya pristiwa proklamasi melalui tayangan televise atau sebagainya.
b. Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme.
Untuk memanipulasi keadaan, media dapat menampilkan suatu proses atau gerakan yang terlau cepat yang sulit diikuti seperti gerakan mobil, gerakan kapal terbang, gerakan-gerakan pelari atau gerakan yang sedang berolah raga; atau sebaliknya dapat mempercepat gerakan-gerakan yang lambat, seperti gerakan pertumbuhan tanaman, perubahan warna suatu zat, dan lain sebagainya.
c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Sebagai contoh sebelum menjelaskan materi pelajaran tentang polusi, untuk dapat menarik perhatian siswa terhadap topic tersebut, maka guru memutar film terlebih dahulu tentang banjir atau tentang kotoran limbah industri dan lain sebagainya.
Dari beberapa fungsi di atas, maka media pembelajaran memiliki nilai praktis sebagai berikut:
1. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2. Media dapat mengatasi batas ruang kelas. Hal ini terutama untuk menyajikan bahan belajar yang sulit dipahami secara langsung oleh peserta. Dalam kondisi ini media dapat berfungsi untuk:
a. Menampilkan objek yang terlalu besar untuk dibawa ke dalam kelas
b. Memperbesar serta memperjelas objek yang terlalu kecil yang sulit dilihat oleh mata telanjang, seperti sel-sel butir darah/molekul bakteri dan sebagainya.
c. Mempercepat gerakan suatu proses yang terlalu lambat sehingga dapat dilihat dalam waktu yang lebih cepat.
d. Memperlambat proses gerakan yang terlalu cepat.
e. Menyederhanakan suatu objek yang terlau kompleks.
f. Memperjelas bunyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat ditangkap oleh telinga.
3. Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.
4. Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat.
6. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk dapat belajar dengan baik.
7. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
8. Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
9. Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai abstrak.
MEDIA KOMPUTER DALAM PEMBELAJARAN
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Arif Sadiman, 2008: 6). Sedangkan menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan yang dapat merangsang untuk belajar. Sementara itu Briggs berpendapat bahwa media adalah alat fisik yang dapat menyajikan peran serta merangsang siswa untuk belajar (Arif Sadiman, 2008: 6).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur informasi belajar dan penyalur pesan dari pengirim ke penerima sehingga proses pembelajaran terjadi.
Menurut Herwindo (2006: 11 – 12) komputer adalah mesin penghitung elektronik yang cepat dan dapat menerima informasi input digital, kemudian memprosesnya sesuai dengan program yang tersimpan di memorinya, dan menghasilkan output berupa informasi.
Sementara itu, menurut Azhar Arsyad (2007: 53), komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk memanipulasi informasi yang diberi kode, mesin elektronik yang otomatis melakukan pekerjaan dan perhitungan sederhana dan rumit.
Adapun elemen-elemen yang terdapat dalam komputer sebagai mesin penghitung dan pengolah memiliki tiga elemen, yaitu:
a. Perangkat keras (hardware), adalah segala peralatan yang berwujud fisik. Contoh: monitor, keyboard, CPU, dan lain-lain.
b. Perangkat lunak (software) program yang berisi instruksi atau perimtah yang dimengerti oleh komputer, contoh: Ms Word, program pengolahan gambar seperti photoshop.
c. Pengguna (brainware), yaitu orang yang mengopersikan komputer. (Herwindo, 2006: 11 – 12)
Jadi dapat disimpulkan bahwa media komputer adalah salah satu media yang dapat mentransformasi berbagai symbol dalam informasi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya. Siswa dapat mengetik teks, dan kompuetr yang canggih dapat mentansformasikannya ke dalam bentuk lain.
1. Kelebihan dan Kekurangan Media Komputer
Media merupakan sarana untuk meningkatkan kegiatan proses pembelajaran. Beraneka ragamnya media, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan seperti halnya media komputer. Menurut Azhar Arsyad (2007: 54 – 55) mengemukakan kelebihan dan kekurangn media komputer adalah:
a. Kelebihan Media Komputer
1) Komputer dapat mengakomodasi siswa yang lambat menerima pelajaran, karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersifat afektif dengan cara yang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi seperti yang diinginkan program yang digunakan.
2) Komputer dapat merangsang siswa untuk mengerjakan latihan, melakukan kegiatan laboratorium, atau simulasi karena terjadinya animasi grafik, warna, dan music yang dapat menambah realism.
3) Kendali berada di tangan siswa sehingga tingkat kecepatan belajar siswa dapt disesuaikan dengan tingkat penguasaannya. Dengan kata lain, komputer dapat berinteraksi dengan siswa secar perseorangan misalnya denga bertnaya dan menerima jawaban.
4) Kemampuan merekan amtivitas siswa selama menggunakan suatu program pembelajaran member kesempatan lebih baik untuk pembelajaran secara perseorangn dan perkembangan setiap siswa dapat dipantau.
5) Dapat berhubungan dan dapat mengendalikan, peralatan lain seperti compact disc, video tape, dan lain-lain dengan program pengendali dari komputer.
b. Kekurangan Media Komputer
1) Meskipun harga perangkat keras komputer cenderung semakin menurun (murah), pengembangan perangkat lunaknya masih relatif lunak.
2) Untuk menggunakan komputer diperlukan pnegethauan dan keterampilan khusus tentang komputer.
3) Keragaman model komputer (perangkat keras) sering menyebabkan program (software) yang tersedia untuk satu model tidak cocok (compatibel) dengan model lainnya.
4) Program yang tersedia saat ini belum memperhitungkan kreativitas siswa, sehingga hal tersebut tentu tidak akan dapat mengembangkan kreativitas siswa.
5) Komputer hanya efektif bila digunakan oleh ssatu orang dalam kelompok kecil. Untuk kelompok yang besar mampu memproyeksikan pesan-pesan di monitor ke layar lebar.
Media komputer memang mempunyai banyak kelebihan dan mampu mempermudah proses penyampaian pesan dalam proses pembelajaran apabila kita mampu menggunakannya dengan efektif. Namun berbeda jika kita tidak mampu menguasai media komputer dengan baik, pembelajaran justru akan mengalami hambatan dan pada akhirnya proses pembelajaran menjadi tidak efektif dan efisien.
Sedangkan menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007: 137 - 1388) keuntungan dan keterbatasan pembelajaran menggunakan media komputer antara lain:
a. Kelebihan pembelajaran menggunakan media komputer antara lain:
1) Cara kerja baru dengan komputer akan membangkitkan motivasi kepada siswa dalam belajar.
2) Warna, musik, dan grafis animasi dapat menambahkan kesan realisme dan menuntut latihan, kegiatan laboratorium, simulasi, dan sebagainya.
3) Respon pribadi yang cepat dalam kegiatan-kegiatan belajar siswa akan menghasilkan penguatan yang tinggi.
4) Kemampuan memori memungkinkan penampilan siswa yang telah lampau direkam dan dipakai dalam merencanakan langkah-langkah selanjutnya di kemudian hari.
5) Kesabaran, kebiasaan pribadi yang dapat diprogram melengkapi suasana sikap yang lebih positif, terutama berguna sekali untuk siswa yang lamban.
6) Kemampuan daya rekamnya memungkinkan pengajaran individual bisa dilaksanakan, pemberian perintah secara individual dapat dipersiapkan bagi semua siswa, terutama untuk siswa-siswa yang dikhususkan, dan kemajuan belajar mereka pun dapat diawasi terus.
7) Rentang pengawasan guru diperlebar sejalan dengan banyaknya informasi yang disajikan dengan mudah dan teratur oleh guru, dan membantu pengawasan lebih dekat kepada kontak langsung dengan para siswa.
b. Keterbatasan pembelajaran menggunakan media komputer antara lain:
1) Walaupun harga dan pemakaian komputer sudah diturunkan secara drastis, pengajaran dengan komputer relatif tetap masih mahal. Oleh karena itu, ongkos dan manfaat pemakaian komputer dalam pengajaran perlu diperhitungkan secara hati-hati. Demikian pula masalah pemeliharaannya, terutama bila perlengkapannya rusak karena pemakaian yang berat.
2) Rancangan dan produksi komputer, terutama untuk tujuan pengajaran, masi terbelakang bila dibandingkan dengan rancangan dan produksi komputer untuk maksud-maksud lain, misalnya untuk analisa data.
3) Materi-materi pengajaran langsung yang bermutu tinggi yang mempergunakan komputer kurang sekali, terutama yang mempergunakan mikro komputer. Di samping itu terdapat masalah dalam menggabungkan, misalnya sering sekali terjadi perangkat lunak yang dikembangkan untuk system komputer satu tidak dapat dipergunakan pada system komputer yang lain.
4) Guru yang merancang materi pengajaran dengan menggunakan komputer bisa bertambah beban pekerjaannya, termasuk memahami keterbacaan komputer.
5) Kreativitas mungin bisa terpaku pada pengajara yang dikomputerkan saja. Komputer adalah abdi untuk mematuhi perintah program-programnya, dan respon siswa yang hakiki atau kreatif akan terabaikan.
Menurut Roestiyah (1998: 154) komputer dapat diprogramkan untuk menggunakan potensi mengajar dalam tiga cara. Di antaranya:
1. Tuition
Dalam hal ini program menuntut komputer untuk berbuat sebagai seorang tutor yang memimpin siswa melalui urutan materi yang mereka harapkan menjadi pokok pengertian.
Komputer dapat menemukan apakah lingkup kesulitan tiap siswa, kemudian menjelaskan pendapat-pendapat yang ditemukan, menggunakan contoh dan latihan yang tepat, dan mentes siswa pada tiap langkah untuk mencek bagaimana siswa telah mengerti dengan baik.
2. Simulation
Bentuk kedua pengajaran dengan komputer ialah untuk simulasi pada suatu keadaan khusus, atau sistem dimana siswa dapat berinteraksi.
Siswa dapat menyebut informasi, sehingga dapat sampai pada jawabannya, karena mereka berpikir sehat, mencobakan interpretasinya dari prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Komputer akan menceritakan pada siswa pakah dampak dari keputusannya, terutama tentang reaksi dari kritikan atau pendapatnya.
3. Data – Crunching
Dalam hal ini komputer digunakan sebagai suatu penelitian sejumlah data yang luas, atau manipulasi data dengan kecepatan yang tinggi.
Siswa dapat meminta kepada komputer untuk meneliti figur-figur tertentu, atau pola-pola ratusan sensus kembali atau menghasilkan grafik dan chart yang sulit/kompleks.
PELAJARAN SKI DI SEKOLAH
Mata Pelajaran SKI dalam kurikulum adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, pembiasaan dan keteladanan.
Menurut Kahar Muazakar Hasby ( 2008: 15) Sejarah Kebudayaan Islam ialah suatu yang membicarakan segala hal kehidupan yang dialami manusia pada masa yang lalu, yang merupakan manifestasi/penjelmaan kerja jiwa manusia muslim yang didasari dan mencerminkan ajaran Islam dalam arti yang luas.
Hal lain yang sangat mendasar terkait dengan SKI adalah kemampuan guru dalam menggali nilai, makna, aksioma, ibrah/hikmah, dalil dan teori dari fakta sejarah yang ada. Jadi SKI tidak saja merupakan transfer of knowledge, tetapi juga merupakan pendidikan nilai (value education).
Sejarah Kebudayaan Islam ialah suatu yang membicarakan segala hal kehidupan yang dialami manusia pada masa yang lalu, yang merupakan manifestasi/penjelmaan kerja jiwa manusia muslim yang didasari dan mencerminkan ajaran Islam dalam arti yang luas”.
Dengan dasar definisi Sejarah Kebudayaan Islam sebagaimana yang dirumuskan di atas, maka mengandung empat prinsipil, yaitu:
a. Tentang kejadian/peninggalan masa yang lalu dengan memberi ulasan atau penjelasan nyata.
b. Ciptaan orang/masyarakat Islam.
c. Dasarnya/sumbernya ajaran Islam.
d. Mencerminkan ajaran Islam. (Kahar Muzakar Hasby, 2008: 15)
Keempat prinsip ini merupakan empat prinsip umum yang terkandung dalam mata pelajaran SKI. Keempat prinsip umum ini mewakili kesluruhan materi SKI yang natinya dijabarkan dalam pembahasan materi secara khusus sesuai dengan empat prinsip tersebut.
1. Tujuan Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam
Adapun tujuan mempelajari SKI sebagai berikut :
a. Memberikan pengetahuan tentang sejarah Islam dan kebudayaan Islam kepada para peserta didik, agar ia memberikan konsep yang objektif dan sistematis dalam perspektif sejarah.
b. Mengambil i’tibar, nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah.
c. Menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan ajaran Islam berdasarkan cermatan atas fakta sejarah yang ada.
d. Membekali peserta didik untuk membentuk kepribadiannya berdasarkan tokoh-tokoh teladan sehingga terbentuk kepribadian yang luhur.
2. Fungsi mempelajari Sejara Kebudayaan Islam
Adapun fungsi mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam antara lain:
a. Fungsi edukatif
Sejarah menegaskan kepada peserta didik tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
b. Fungsi keilmuan
Melalui sejarah, peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
c. Fungsi transformasi
Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam proses transformasi masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ialah suatu yang membicarakan segala hal kehidupan pada masa lalu, yang merupakan penjelmaan kerja jiwa muslim yang didasari dan mencerminkan ajaran Islam dalam arti luas. Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu bagian yang penting dalam pendidikan agama islam. Dengan dipelajarinya SKI di sekolah diharapkan siwa pada akhirnya dapat mengenal, memahami, bahkan menghayati kebudayaan Islam itu sendiri.
Sejarah Kebudayaan Islam bukan hanya sebagai fakta sejarah dalam dunia Islam, SKI itu sendiri merupakan pendidikan nilai yang dapat digunakan untuk membangun peradaban Isalam di masa depan menjadi lebih baik. Jadi SKI tidak hanya sebagai pengetahuan yang dipelajari di sekolah semata. Sejarah menegaskan kepada peserta didik tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan Islami dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dan melalui sejarah peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)