Saturday, April 25, 2015

Konsep Maqashid Syari'ah

Maqashid Syari’ah adalah konsep dalam Islam yang dimaksudkan untuk mewujudkan kemaslahatan, kebaikan, atau kesejahteraan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan konsep maqashid syari’ah ini lah Islam berupaya untuk melindungi umatnya dari segala tindak-tanduk yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Dua dari lima konsep maqashid syariah adalah hifdzu nafsi (menjaga diri) dan hifdzuaqli (menjaga akal.  Dua konsep ini mewajibkan manusia untuk mencegah dirinya dimasuki hal-hal yang dapat merusak dirinya. Salah satunya adalah menlindungi diri dari bahaya minuman keras yang jelas-jelas dapat mengganggu kesehatan karena di dalam minuman keras memang mengandung bahan-bahan yang berbahaya.

Efek dari minuman keras tidak bisa dianggap sepele, beberapa dari mereka yang mengkonsumsi minuman keras akan merasakan gangguan-gangguan yang lambat laun menggerogoti tubuh mereka. Mulai dari gangguan syaraf, penyakit jantung, metabolisme tubuh menjadi menurun, gangguan janin bagi perempuan yang sedang hamil, bahkan yang paling fatal adalah kematian.


Tidak sedikit dari akibat menenggak minuman keras ini kemudian overdosis dan mengakibatkan peminumnya harus rela kehilangan nyawanya. 

Puasa Rajab

Pada dasarnya puasa sunnah itu dianjurkan untuk dilaksanakan mengingat puasa penuh dengan keutamaan dan faidah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya Islam tidaklah melarang penganutnya untuk melaksanakan puasa kapan saja dan dimana saja selama tidak dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu yang memang dilarang untuk berpuasa.

Hingga tak terasa kita sampailah pada satu bulan dalam Islam yang memiliki keutamaan yang sangat mulia apabila kita melaksanakan puasa, yaitu bulan Rajab. Dalam kalender Islam, Rajab adalah bulan ke tujuh dari penanggalan hijriyah.

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan dalam kalender hijriah yang disebut dengan bulan haram, haram disini bukanlah haram melaksanakan puasa, tetapi diharamkan dalam keempat bulan ini umat Islam melaksanakan peperangan. Adapun keempat bulan tersebut adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Selain disebut dengan bulan haram, keempat bulan ini disebut pula dengan bulannya Allah (syahrullah) dikarenakan mulianya kedudukan keempat bulan ini. Dalam Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 36 Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Keutamaan Puasa di Bulan Rajab
Mengingat bulan Rajab termasuk kedalam empat bulan yang mulia dalam Islam, maka berpuasa pada bulan ini disebut oleh Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Selain termasuk ke dalam ibadah yang paling utama setelah puasa Ramadhan, puasa di bulan Rajabpun rupanya memiliki keutamaan khusus dibandingkan dengan puasa pada hari-hari biasa lainnya. Adapun keutamaan dari puasa pada bulan Rajab adalah sebagai berikut:
1.           Melaksanakan puasa pada bulan Rajab selama sehari, diibaratkan dengan melaksanakan puasa selama satu bulan.
2.           Melaksanakan puasa Rajab selama 7 hari, maka 7 pintu dari neraka Jahim akan ditutup bagi mereka yang melaksanakan puasa Rajab.
3.           Melaksanakan puasa Rajab selama 8 hari, maka 8 pintu surga akan dibukakan bagi kita.
4.           Melaksanakan puasa Rajab selama 10 hari, maka semua dosa-dosa kita akan diganti dengan kebaikan dan semua permintaan kita akan dikabulkan.
5.           Rajab merupakan salah satu nama dari sungai yang ada di Surga yang mengalir di dalamnya air yang lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu. Maka siapa saja yang melaksanakan puasa Rajab sehari saja, dia akan merasakan kenikmatan meminum air sungai Rajab di surga nanti.


Dari uraian di atas, kita memperoleh keterangan terkait bulan-bulan terhormat yang mana kita disunahkan untuk berpuasa pada bulan yang dimuliakan Allah SWT dan Nabi tersebut.

Bulan Rajab dan Keistimewaannya

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan, disebutkan bahwa bulan Rajab ini termasuk ke dalam salah satu bulan yang diagungkan oleh Allah. Bahkan bulan Rajab ini dikatakan sebagai  bulannya Allah SWT (syahrullah).

Sudah tiga hari ini sebagian besar umat Islam melaksanakan ibadah puasa Rajab, mereka yang melakukan puasa pada bulan Rajab ini beranggapan bahwa bulan Rajab ini merupakan salah satu bulan yang mulia yang penuh dengan keberkahan. Selain dengan melaksanakan puasa, dianjurkan pula dalam bulan ini untuk melakukan kebaikan-kebaikan lainnya seperti shadaqah.

Disebutnya bulan Rajab sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan ini bukanlah tanpa alasan, Rasulullah sendiri selalu berdoa apabila memasuki bulan ini. Bahkan dalam haditsnya Rasulullah menyebutkan:
“Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab selama satu hari sama dengan ia melaksanakan puasa selama  sebulan. Apabila berpuasa selama tujuh hari, ditutuplah baginya pintu neraka jahanam. Apabila berpuasa selama delapan hari, dibuka baginya delapan pintusurga.  Dan apabila melaksanakan puasa selama sepuluh hari, baginya Allah akan mengabulkan semua keinginannya,” (HR. Thabrani).

Selain keutamaan puasa dalam bulan Rajab tersebut, rupanya masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan bulan Rajab, diantaranya sebagai berikut:
1.       Allah akan memuliakan kita di hari kiamat apabila kita memuliakan bulan Rajab.
2.       Apabila kita melaksanakan puasa selama satu hari, diibaratkan dengan melakukan puasa selama empat puluh tahun.
3.       Bagi yang berpuasa akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
4.       Puasa pada pertengah dan akhir dari bulan Rajab hampir sama pahalanya denga n melaksanakan puasa  selama satu bulan penuh.

Selain beberapa keutamaan bulan Rajab tersebut di atas, bulan Rajab juga  merupakan salah satu bulan yang bersejarah bagi umat Islam. Dalam bulan Rajab ini pernah terjadi peristiwa  Isra dan Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab dimana Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah berupa perintah shalat.


Kebenaran Ilmiah Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Bagi umat Islam, bulan Rajab adalah salah satu bulan yang sangat mulia kedudukannya diantara bulan-bulan dalam penanggalan hijriah lainnya. Selain memiliki keutamaan, dalam bulan Rajab pun pernah terjadi peristiwa yang sangat bersejarah, dimana dalam peristiwa tersebut sebuah amalan dimandatkan Allah kepada Nabi Muhammad untuk dilaksanakan oleh umatnya.

Isra Mi’raj, adalah peristiwa yang sangat bersejarah yang terjadi di bulan Rajab tersebut, dimana Shalat menjadi buah tangan Nabi Muhammad setelah bertemu dengan Allah SWT dalam peristiwa Isra Mi’raj tersebut.

Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad bermula dari perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram yang ada di Mekah berlanjut ke Masjidil Aqsa yang ada di Yerusalem, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan Nabi Muhammad yang naik dari Bumi menuju langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah yang kemudian mendapat perintah shalat.

Namun hal ini justru membuat orang kafir Quraisy pada waktu mengolok-olok dan mengganggap Nabi Muhammad sebagai orang gila. Hal itu mereka lakukan mengingat tidak mungkinnya seseorang dalam satu malam berpindah dari Mekah ke Yerusalem yang jaraknya sangat jauh, apalagi ini sampai naik ke atas langit. Bagi kebanyakan orang saat itu hal ini tidaklah masuk akal, tidak logis, dan mengada-ada.

Namun seiring denga berkembangnya zaman dan dengan canggihnya teknologi modern saat ini, peristiwa Isra Mi’raj yang dianggap mengada-ada dan tak logis itu bisa ditepis dan dibantah.

Berawal dari penelitian-penelitian, penemuan-penemuan, fakta-fakta ilmiah, dan canggihnya teknologi sekarang ini sudah bisa membuktikan kebenaran peristiwa Isra Mi’raj ini, yang antara lain sebagai berikut:
1.       Peristiwa Isra Mi’raj merupakan kehendak Allah karena Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Dalam Isra Mi’raj, Nabi Muhammad tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan dengan kehendak Allah.
2.       Karena cepatnya perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad, tubuh Nabi Muhammad terlebih dahulu diubah menjadi cahaya. Sebab kalau tidak diubah menjadi cahaya, tubuh Rasulullah akan hancur akibat lepasnya ikatan atom dan molekul.
3.       Waktu perjalan Nabi Muhammad dalam Isra Mi’raj adalah malam hari. Sebab apabila dilaksanakan siang hari badan cahaya Nabi Muhammad akan mengalami interferensi sinar matahari.
4.       Yang paling memungkinkan dari peristiwa Isra Mi’raj ini adalah sebuah teori yang disebut dengan teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.


Masihkah kita ragu fakta-fakta ilmiah dan kebenaran Isra Miraj diatas? Jika masih ragu, maka kita diibaratkan dengan manusia zaman dahulu yang sama sekali tidak menyentuh teknologi dan pengetahuan moder. Wallahu a’lam!  

Thursday, April 9, 2015

Pendidikan Akhlak Mulia dan Budi Pekerti Bagi Anak

Anak adalah buah cinta, tambatan hati, belahan jantung, hiasan hidup dan penyejuk mata memandang. Anak menjadi pelipur lara dan penawar duka. Jika anak berhasil, banggalah orang tua, tidak sia-sia perjuangannya. Jika anak berprestasi, beban yang berat menjadi ringan seketika.

Jika anak bisa mandiri, rajin shalat, pandai bergaul, tidak terlibat perbuatan tercela, kreatif, dan inovatif, orang tua mana yang tidak berbahagia. Ibarat memelihara tanaman yang sehat tumbuh subur itu, semangat hidup seseorang menjadi berkobar, ingin bisa memenuhi seluruh keperluan anak, ingin rasanya hidup lebih lama lagi. Kalaupun Allah mentakdirkan umur orang tua tidak panjang, orang tua merasa telah menunaikan amanah, tidak ada kekhawatiran di hadapan Allah. Orang tua ikhlas dan ridha menghadap Khaliq, karena anak pasti akan mendoakannya.

Sebaliknya jika anak “mursal” susah dikendalikan dan bikin onar, orang tualah yang menderita. Jika anak terlibat perbuatan amoral, asusila, atau pelanggaran hukum, malu orang tua tak terlukiskan, sama anak melempar tinja ke muka orang tua. Sungguhpun demikian, anak tetaplah anak, kasih sayang orang tua tidak akan rontok diterjang badai.

Untuk mengantarkan anak menjadi orang yang “shaleh, sukses, dan akram”, dapat dibanggakan orang tua, maka pendidikan dasar menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Pendidikan dasar dimaksud adalah pendidikan yang telah diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.

Pendidikan sungguh sangat kita aktualisasikan sekarang ini. Lebih-lebih di saat globalisasi makin nampak pengaruh negatifnya. Fakta yang kita baca tiap hari, anak-anak dan generasi muda, masa depannya dihadapkan pada situasi yang cukup berat.

Contoh lebih utama
Mendidik bukan hanya sekedar memberi nasihat, menuliskan kata-kata bijak, mengajari anak-anak bisa membaca, menulis dan berhitung, atau mentransfer ilmu pengetahuan. Seperti Lukman Al-Hakim, orang tua harus bisa memotivasi, menjual ide-ide dan harapan, meyakinkan, memancing munculnya gagasan-gagasan brilian, menawarkan alternatif pilihan, dan membuka cakrawala pikiran anak.

Mendidik juga berarti mengarahkan, membangkitkan gairah belajar, merangsang timbulnya kreatifitas, mendorong diketemukannya potensi dan kemampuan anak didik. Sisi kognitif yang dipancarkan oleh otak sebelah kiri memang penting, tetapi sisi imajinatif ayang dipancarkan oleh otak kanan juga sangat penting. Keduanya harus dieksplorasi secara seimbang, supaya tidak pincang.



Mungkin karena hanya satu sisi yang menjadi fokus pendidikan, yaitu otak kiri saja, maka tidaklah heran jika perguruan tinggi yang ada di negeri ini hanya meluluskan sarjana-sarjana yang mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan, meminta jasa bukan membuat jasa. Banyak sarjana dan banyak orang pintar tetapi tidak punya kreativitas. Albert Einstein berkata: “ILMU TANPA IMAJINASI TIDAK ADA GUNANYA”.

Lebih dari itu, tidak kalah pentingnya, guru dan orang tua harus memberi teladan. Orang tua atau guru akan memiliki kharisma tinggi dan didengar kata-katanya oleh anak-anak, manakala dirinya sendiri sudah melakukan sebelum menyuruh anak untuk melakukannya.

Ajarkan cara dan sikap hidup yang kongkrit dan nyata. Jika melihat ada kotoran di sekolah, guru tidak cukup hanya menyuruh, namun guru harus mengajak murid untuk mengambilnya. Mengajak berarti memulai terlebih dahulu, bukan memerintah. Dengan sikap dan perbuatan nyata, berarti guru dan orang tua telah membuka jalan pikirannya. Anak-anak akan tertarik mengikutinya dan terbangkitnya potensi dirinya, manakala guru dan orang tua bisa mencairkan kebekuan yang dialaminya. Dan itu terjadi dengan contoh dan visualisasi. Kesan yang ditimbulkan oleh contoh nyata dan visualisasi akan tertanam dalam memori anak dan bertahan lama, bahkan sampai tua tidak akan terlupakan. Anak-anak butuh contoh, bukan kata-kata tanpa fakta.

Jangan asal menasehati
Mahatma Ghandi seorang tokoh pejuang kemerdekaan India, ketika diminta menasehati anak yang suka makan permen, dia tidak mau, dia meminta waktu sekian hari lagi untuk memberi nasehat.

“Pak, tolong nasehati anak saya ini! Dia suka makan permen, susah dicegah”, kata seorang ibu kepada Mahatma Ghandi.

“Ibu… sekarang saya belum bisa menasehati anak ibu! Tunggu dua minggu lagi, nanti ajak anak ibu datang kemari”, jawab Mahatma Ghandi.

Dua minggu kemudian, sang ibu bersama anaknya datang menghadap Mahatma Ghandi. Baru di situlah Mahatma Ghandi memberi nasehat: “Nak… kamu jangan makan permen ya…! Nanti gigi kamu bisa rusak”.

Hanya kata-kata seperti itulah yang keluar dari mulut Mahatma Ghandi. Tetapi kenapa harus menunggu sampai dua minggu? Ketika ditanya, kenapa musti menunggu sekian hari? Mahatma Ghandi menjawab: “Bagaimana saya memberi nasehat anak ibu untuk tidak makan permen, sedangkan saya sendiri masih suka makan manisan. Saya harus meninggalkan dulu untuk tidak makan manisan, saya harus melakukan terlebih dahulu sebelum saya menyuruh orang lain untuk melakukan, dan saya harus tahu apa alasannya menyuruh orang untuk berhenti meninggalkan sesuatu”.

Agar Doa Cepat Terkabul

Do’a merupakan bagian ibadah dan berpahala tentunya. Tidak ada satu ibadah pun tanpa berdo’a. Do’a mempunyai kekuatan yang luar biasa yang tidak terjangkau oleh kemampuan akal manusia. Dengan berdoa, perkara sesulit apapaun dapat berubah menjadi mudah.

Manusia dalam kehidupannya membutuhkan sandaran untuk setiap masalah yang dihadapinya dan tidak mungkin setiap usaha bisa berhasil tanpa adanya doa.

Akan tetapi tidak semua do’a bernilai ibadah dan berpahala serta dapat dikabulkan oleh Allah SWT sebab terdapat kesalahan atau kekeliruan serta kurangnya adab berdo’a yang baik yang dapat menyebabkan doa tersebut tidak langsung dikabulkan. Dan sangatlah penting setiap muslim mengetahui aturan-aturan ataupun  syarat-syarat serta tata cara berdoa yang baik, bahkan setiap muslim haruslah mengetahui kapan waktu yang ijabah agar doanya dapat terkabul.

Do’a kita ingin pastinya ingin cepat terkabul bukan? Setidaknya kita harus memperhatikan beberapa hal agar doa kita ingin cepat terkabul.

Mengetahui waktu/hari yang mustajab untuk berdo’a. Diantaranya adalah saat tutun hujan, antara adzan dan iqamah, selesai shalat fardhu, hari jum’at, bulan Ramadhan, waktu sahur, dan sepertiga malam.
Lemah lembut ketika berdoa. Suara tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu pelan.
Tidak dinyanyikan dan dilakukan secara khusyu dan tawadhu.
Yakin dalam hati bahwa doa yang kita panjatkan suatu saat pasti akan dikabulkan.
Sabar dan tidak terputus dalam berdoa. Artinya doa dilakukan secara kontinyu apabila kita menginginkan doa kita terkabul, dan menghindari prasangka bahwa doa kita tidak akan dikabulkan.
Setiap doa diawali dengan sanjungan terhadap Allah SWT, shalawat bagi Nabi Muhammad SAW, dan ucapan rasa syukur (Hamdallah).
Memohon ampunan serta memperbanyak taubat atas dosa-dosa yang kita perbuat.
Jangan ragu-ragu akan terkabulnya doa yang kita panjatkan. Janji Allah sudah pasti, tetapi dalam bentuk dan cara yang berbeda sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Yakinlah Allah akan membantu, Allah akan membereskan, karena Ia pemilik alam semesta ini.

Fenomena Berdoa di Media Sosial

Dari pelosok desa hingga ke daerah perkotaan setiap orang tentunya sudah mengetahui apa itu media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Selain digunakan sebagai alat komunikasi satu sama lain baik komunikasi antar keluarga, teman, atau digunakan sebagai media online dalam bisnis, ternyata media sosial ini sudah berganti fungsi menjadi tempat curhat, yang biasanya dilakukan oleh orang yang notabene masih ababil. Selain itu, ternyata media sosial pun oleh sebagian orang digunakan sebagai tempat untuk berdo’a.

Lantas bagaimana fenomena tersebut dalam pandangan Islam? Sebenarnya tidak ada larangan untuk curhat atau berdoa di media sosial karena dulu zaman Rasulullah SAW belum ada yang dinamakan dengan media sosial yang sedang booming dan nge-trend seperti sekarang ini. Namun sebagai agama yang terakhir dan berlaku sampai akhir zaman sudah lama memprediksi akan adanya fenomena media sosial yang trend saat ini.

Hendaklah kalian mengadukan segala urusan kepada Allah saja, walaupun itu hanya sandal yang putus.
HR. Tirmidzi

Hadits tersebut di atas adalah panduan bagi seorang Facebooker atau media sosial addict muslim lainnya yang biasanya berdo’a atau curhat urusan-urusan sepele dalam media sosial, karena biasanya mereka mencurahkan segala hal yang sepele sekalipun dalam media sosial.

Dalam Islam, hendaknya curhat atau berdo’a itu hanya kepada Allah sahaja. Sebab, apabila kita melakukan curhat atau berdo’a di media sosial tersebut akan berpotensi menjadi riya’, syirik kecil, ingin diperhatikan dan dipuji oleh orang lain, yang pada akhirnya dikhawatirkan akan menduakan Allah. Dan jelas hal itu sudah bertentangan dengan aturan berdoa yang diajarkan dalam Islam.

Dalam Islam, berdoa itu harus disertai dengan niat tulus dan ikhlas mengharap ridha Allah semata. Jika kita berdoa hanya karena ingin mendapat perhatian dan pujian semata, maka hal tersebut bertentangan dan dilarang dalam ajaran Islam. Karena Islam menegaskan bahwa dalam setiap doa yang kita panjatkan harus ikhlas, semata-mata karena Allah, tidak disertai dengan niat-niat lainnya yang berujung kepada riya’.

Alangkah baiknya kita menghindari berdoa dalam wall/dinding media sosial, karena perbuatan tersebut juga menyerupai perbuatan orang Yahudi yang berdoa di dinding/tembok ratapan. Sedangkan apabila seorang muslim menyerupai pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan oleh umat agama lainnya maka mereka termasuk dalam golongan agama tersebut yang sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits-hadits Nabi SAW.

Alangkah bermanfaat jika media sosial yang ada sekarang ini kita gunakan untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan, menyebarkan informasi-informasi yang inspiratif dan bermanfaat bagi khalayak ramai. Atau bahkan digunakan sebagai wahana untuk melakukan bisnis yang menghasilkan keuntungan. Wallahu a’lam.

Memperlihatkan Aurat di Media Sosial

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan berita yang menyeret seorang mahasiswi yang berinisial RA, mahasiswi salah satu jurusan Perbandingan Mazhab dan hukum di salah satu Universitas di Bandung ini tersandung kasus foto-foto dirinya yang beredar tanpa sehelai benang pun.

Sejatinya dengan adanya media sosial yang sedang trend sekarang ini membawa dampak positif bagi siapa saja yang menggunakannya. Tidak dapat dipungkiri media sosial tersebut memberi andil yang begitu besar dan bermanfaat. Dengan media sosial kita bisa bersilaturahim, melakukan bisnis, memberikan informasi inspiratif dan penting, bahkan memberikan kritikan pada pemerintah.

Berkembangnya teknologi informasi di era globalisasi sekarang ini semakin membuat dunia maya semakin ramai dikunjungi. Media jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, Path, dan yang lainnya tak pernah sepi pengunjung sebab pemilik akun akan terus mengakses media sosial tersebut. Begitu juga dengan situs chatting seperti Skype atau Yahoo Messenger atau situs blogging seperti Blogger dan WordPress.

Maraknya fenomena media sosial ini pada akhirnya memunculkan banyak masalah,  salah satu masalah yang ditemui adalah banyaknya akun di media sosial yang menampilkan foto-foto yang menampakkan aurat bahkan memperlihatkan foto-foto yang mengandung unsur pornografi. Facebook salah satunya, tidak sedikit orang  yang memperlihatkan auratnya.

 Memang melihat aurat secara tidak langsung berbeda dengan melihat aurat secara langsung. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan hampir sama. Orang yang melihat gambar aurat mungkin saja akan tergoda untuk melakukan perbuatan zina.

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.
QS. Al-Isra : 32

Memperlihatkan atau memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihat aurat kita sama saja dengan menjerumuskan orang lain pada zina. Dan tidak sepantasnya seorang muslim memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukan kemaksiatan.

Selayaknya sebagai seorang muslim yang baik dan taat agar berhenti dalam memperlihatkan gambar-gambar atau foto-foto yang mengumbar aurat, karena hal tersebut dapat merusak mental generasi muda. Sedikitnya ada tiga dosa yang tanpa disadari telah dilakukan dengan memperlihatkan aurat kita dalam media sosial.

Dosa karena memperlihatkan aurat. Sudah jelas memperlihatkan aurat ini merupakan dosa besar. Menutup aurat dalam Islam adalah hal yang mutlak dan sangat jelas hukumnya.
Dosa karena mengundang orang lain berbuat dosa.
Dosa karena memamerkan perbuatan dosanya. Memasang gambar atau foto yang memperlihatkan aurat berarti memamerkan perbuatan dosanya.
Memperlihatkan aurat pada media sosial bukanlah hal yang bisa kita anggap sepele. Bahkan ada yang mengatakan kalau memperlihatkan aurat dalam media sosial sama dengan melakukan dosa selama 24 jam penuh. Dosa tersebut akan dicatat oleh Malaikat selama ada yang melihat foto yang memperlihatkan aurat tersebut, sekalipun kita tidak sedang mengakses akun media sosial milik kita sendiri.

Bahkan yang paling dikhawatirkan adalah dosa memperlihatkan aurat dalam media sosial tersebut menjadi dosa warisan ketika seseorang meninggal dunia nantinya yang tidak akan berhenti dosa tersebut selama gambar atau foto yang ada dalam media sosial tersebut tidak kita hapus. Naudzubillah.

Korupsi dalam Pandangan Islam

Melihat keadaan sekarang ini, banyak sekali orang yang melakukan perbuatan yang sangat tercela dan keji ini. Bahkan kita dapat kita jumpai dalam semua lapisan masyarakat, mulai masyarakat kelas bawah, kelas menengah, sampai kelas atas sekalipun. Masyarakat bahkan dapat menggolongkan pelaku korupsi ini menjadi beberapa tingkat. Mulai dari koruptor kelas teri sampai kelas kakap.

Misalnya dalam ruang lingkup masyarakat kelas bawah, mungkin kita pernah mendapati seseorang yang mendapat tugas untuk membeli sebuah barang, kemudian setelah dibelikan barang, uang yang diberikan masih ada sisanya, dia tidak memberitahu kalau uang tersebut tersisa dan masuk ke dalam sakunya meskipun hanya satu sen. Adapun koruptor kelas kakap, mereka tidak tanggung-tanggung melakukan korupsi sampai milyaran bahkan triliyunan rupiah.

Begitu pula yang terjadi di Indonesia, korupsi sudah mendarah daging bahkan sudah menjadi suatu seni, yaitu seni berkorupsi. Koruptor tidak hanya sekedar meraup uang Negara, tetapi mereka juga sudah sampai dalam tahap bagaimana mengemas hasil korupsi tersebut agar KPK pun susah membedakan mana yang hasil korupsi dan yang bukan.

Hukum korupsi, menurut pandangan Ulama Fiqih, secara aklamasi dan konsensus (ijma’) adalah haram, karena merugikan kepentingan umum. Keharaman perbuatan korupsi dapat ditinjau dari berbagai segi, diantaranya:

Korupsi adalah perbuatan curang dan penipuan yang berpotensi merugikan keuangan negara dan kepentingan masyarakat yang dikecam oleh Allah SWT dalam surah Al-Imran ayat 161 dengan hukuman setimpal di akhirat.

Korupsi berupa penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang untuk memperkaya diri merupakan pelanggaran terhadap amanat. Mengkhianati amanat adalah salah satu karakter orang munafik yang dibenci Allah SWT sehingga hukumnya adalah haram (Q.S Al-Anfaal: 27 dan An-Nisaa: 58).

Korupsi untuk memperkaya diri dan orang lain adalah perbuatan zalim, karena kekayaan negara adalah harta yang berasal dari keringat orang-orang kecil dan miskin. Perbuatan zalim ini patut mendapatkan azab yang pedih (Q.S Az-Zhukruf: 65).

Korupsi dapat menimbulkan dampak yang sangat luar biasa buruk bagi suatu bangsa dan negara. Maka pencegahan dan penanggulangannya harus dilakukan secara serius dan terpadu antara seluruh komponen bangsa.

Memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah adalah jalan keluar dari persoalan korupsi ini, karena apabila setiap muslim betul-betul yakin akan ajaran agamanya maka ia akan mematuhi ajaran Islam dan takut melakukan korupsi tersebut.