Tuesday, March 26, 2013

PENDIDIKAN AQIDAH PADA ANAK


Secara psikologis pada dasarnya setiap anak telah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan atau keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah tersebut tidak akan bisa berkembang sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang ada dalam Al-Quran dan Sunah/Rasul (Muhammad Saw) tanpa peran dari kedua orang tua/pendidikan yang memberikan pedoman dan petunjuk kepada anak.  Dalam hal ini John Locke berpendapat, yang terkenal dengan  teori tabularasa "bahwa anak itu bagaika sehelai kertas putih", ini bisa berarti apapun isi dan tulisan pada kertas tersebut tergantung orang yang menggoreskan pena pada kertas tersebut. Artinya perkembangan anak dalam pendidikan tergantung bagaimana orang tua/lingkungan/pendidikan yang diberikan kepadanya. Dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda:

"Tidaklah seorang anak itu dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim)

Sedangkan alasan yang mendasari tentang pentingnya pendidikan aqidah pada anak adalah sebagaiman telah diketahui bahwa secara psikologis manusia sudah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, sedangkan secara antropologis manusia membutuhkan perlindungan dan jaminan keamanan dari kekuatan ghaib, dari sudut pandang sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan sesamanya yang dilandasi tata nilai.

Dengan ketiga dasr tersebut, maka pendidikan aqidah pada anak berusaha memberikan pedoman serta mengembangkan fitrah bawaannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Al-Hadits, dengan harapan apabila sudah saatnya anak harus berinteraksi dengan sesamanya dalam lingkungan yang lebih luas, perilaku mereka selalu berada dalam tatanan nilai agama. Dalam hal ini Al-Ghazali berpendapat: “Maka sewajarnyalah didahulukan kepada anak-anak pada awal pertumbuhannya supaya (materi aqidah) dihafalkan dengan baik, kemudian senantiasa terbukalah pengertiannya nanti sedikit demi sedikit sewaktu dia telah besar (matang intelektualnya). Jadi permulaannya dengan menghafal, kemudia memahami, meyakini dan membenarkan, dengan tidak memerlukan dalil...jalan menguatkan dan menetapkannya (aqidah), tidaklah dengan cara berdebat dan berilmu kalam”.

Pada masa kanak-kanak pendidikan aqidah sangat penting, karena akan memberikan konsep dasar mengenai aqidah kepada mereka. Apabila pada saatnya anak sudah bisa berfikir secara abstrak (matang perkembangan intelektualnya), maka anak sudah mempunyai dasar tentang aqidah yang dijadikan acuan dalam berpikir/belajar untuk memahami aqidah.

Bertolak dari alasan tersebut dengan melihat perkembangan intelektual dan kemampuan kognitif anak, maka dalam konteks pendidikan aqidah pada anak , materi yang diberikan antara lain rukun iman itu sendiri (ruang lingkup aqidah). Apabila arkanul iman sudah dihafalkan dan difahami serta diyakini oleh anak sejak dini sesuai dengan kemampuan afektifnya, serta sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang diberikan oleh orang tua/pendidik terhadapnya, maka bila perkembangan intelektualnya sudah matang, serta anak bisa berpikir dan memahami aqidah yang diterimanya sejak dini, maka keimanan mereka di masa dewasa nanti bukan sekedar taklid atau warisan dari orang tua dan lingkungannya.

Berdasarkan aliran psikologi asosiasi dalam hal ini adalah teori Lewin, sebagaimana telah dikutip oleh Sumadi Suryabrata: “bahwa belajar adalah mengulang-ulang. Dengan pengulangan tersebut, maka akan terjadi perubahan pada pengetahuan kognitif seseorang”. Dengan demikian apabila anak sejak awalnya sudah diajarkan untuk menghafal rukun iman, bila perkembangan intelektualnya sudah sudah matang duharapkan mereka bisa memahami dan menganalisa untuk kemudian bisa meyakini rukun iman serta dieujudkan dalam perbuatan, maka dengan sendirinya akan menuntun anak pada keimanan yang yakin atau ainul yaqin bahkan bisa mencapai taraf haqqul yaqin.

Sebagaimana telah diketahui bahwa anak masih berikir secara simbolik, tentunya materi (ruang lingkup/aqidah/rukun iman) pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak juga akan dipahami secara simbolik pula. Berhubungan dengan hal tersebut, maka materi pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Iman Kepada Allah
Karena anak masih berpikir secara simbolik, maka sifat Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan sifat Allah yang lain akan dipahami anak sesuai dengan sifat yang dilihat manusia. Padahal sifat Allah jelas berbeda dengan sifat manusia; untuk itu orang tua/pendidik perlu menggunakan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan kognitif anak. Mengenai wujud Allah, anak tidak diperlu diberi penjelasan secara mendetail, karena anak masih berpikir secara simbolik. Tentang kekuasaan Allah, anak bisa diperlihatkan melalui alam ciptaan Allah seperti gunung yang tinggi, lautan dan pantai, langit biru, pelangi yang indah, keindahan bentuk bukan purnama, gemerlapnya bintang pada malam hari dan hal-hal lain yang menkjubkan kepada anak dan yakinkan kepada anak bahwa itu semua adalah ciptaan Allah Swt.
2.      Iman Kepada Malaikat
Dalam rangka menanmkan keimanan kepada Malaikat terhadap anak; maka anak cukup diceritakan mengenai kebaikan-kebaikan Malaikat Allah. Misalnya Malaikat akan selalu mendoakan orang-orang yang membaca shalawat dan orang yang beriman, maka anak akan senang apabila hal ini diceritakan kepada anak. Anak juga perlu diberitahu bahwa setiap orang selalu diikuti oleh malaikat. Pada intinya anak diceritakan mengenai sifat dan kebaikan malaikat terhadap manusia, hal ini untuk merangsang keinginan anak untuk mau mendengar cerita tentang malaikat. 
3.      Iman Kepada Kitab Allah
Dalam usaha menanamkan keimana terhadap kitab Allah kepada anak, disamping anak diberitahu mengenai beberapa kitab Allah selain Al-Quran, anak juga diajak untuk yakin bahwa Al-Quran adalah kitab Allah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini bisa disampaikan melalui hafalan-hafalan surat-surat pendek, doa harian, seperti doa mau makan, mandi, tidur, dan lain sebagainya.
4.      Iman Kepada Rasul Allah
Materi yang perlu diberikan kepada anak dalam usaha menanamkan keimanan terhadap Rasul Allah, disamping mengenai nama beberapa Nabi dan Rasul yang sudah disebutkan dalam Al-Quran, anak juga perlu diceritakan mengenai kepahlawanan, kejujuran, sifat-sifat terpuji para Nabi dan Rasul; semuanya dikemas dalam cerita yang menarik dan indah agar anak mau mendengarkan ceritanya.
5.      Iman Kepada Hari Akhir
Mengenai iman kepada hari akhir, anak cukup diceritakan bahwa setelah semua makhluk hidup mati, akan ada siksa kubur, yaumul baats (bangkitnya manusia dari kubur), mahsyar (tempat  berkumpulnya makhluk setelah bangkit dari kubur), dibukanya catatn amal, mizan (timbangan amal), shirat (titian), haudh (telaga), syafaat, surga dan kenikmatannya, neraka dan siksaannya. Dalam hal ini anak tidak perlu dijelaskan terlalu detail mengenai hal-hal tersebut di atas, cukup sebatas informasi saja; sebagaimana diketahui bahwa anak balum bisa berpikir abstrak.
6.      Iman Kepada Takdir Allah
Mengenai iman kepada takdir Allah, bisa diperlihatkan kepada anak mengenai diciptakannya manusia; ada laki-laki dan perempuan, air es dingin, api panas, dan lain sebagainya. Agar anak terbiasa mengenai tentang takdir Allah, maka anak bisa dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata insya allah setiap kali akan berjanji, dengan mengatakan kepada anak bahwa manusia tidak pernah tahu takdir Allah untuk hari esok.

Demikian materi pendidikan aqidah yang bisa diberikan kepada anak, pada intinya materi yang diberikan kepada anak adalah menyesuaikan kondisi psikis, pola perilaku, dan pola kehidupan anak, serta perkembangan agamanya.


No comments:

Post a Comment