Secara psikologis pada
dasarnya setiap anak telah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan atau keyakinan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah tersebut tidak akan bisa berkembang sesuai
dengan petunjuk dan pedoman yang ada dalam Al-Quran dan Sunah/Rasul (Muhammad
Saw) tanpa peran dari kedua orang tua/pendidikan yang memberikan pedoman dan
petunjuk kepada anak. Dalam hal ini John Locke berpendapat, yang terkenal
dengan teori tabularasa "bahwa anak itu bagaika sehelai kertas putih",
ini bisa berarti apapun isi dan tulisan pada kertas tersebut tergantung orang
yang menggoreskan pena pada kertas tersebut. Artinya perkembangan anak dalam
pendidikan tergantung bagaimana orang tua/lingkungan/pendidikan yang diberikan
kepadanya. Dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah
seorang anak itu dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah (kesucian agama yang
sesuai dengan naluri), sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia
beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim)
Sedangkan alasan yang
mendasari tentang pentingnya pendidikan aqidah pada anak adalah sebagaiman
telah diketahui bahwa secara psikologis manusia sudah mempunyai fitrah (bawaan)
keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, sedangkan secara antropologis manusia membutuhkan
perlindungan dan jaminan keamanan dari kekuatan ghaib, dari sudut pandang
sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan
sesamanya yang dilandasi tata nilai.
Dengan ketiga dasr
tersebut, maka pendidikan aqidah pada anak berusaha memberikan pedoman serta
mengembangkan fitrah bawaannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Al-Hadits,
dengan harapan apabila sudah saatnya anak harus berinteraksi dengan sesamanya
dalam lingkungan yang lebih luas, perilaku mereka selalu berada dalam tatanan
nilai agama. Dalam hal ini Al-Ghazali berpendapat: “Maka sewajarnyalah
didahulukan kepada anak-anak pada awal pertumbuhannya supaya (materi aqidah)
dihafalkan dengan baik, kemudian senantiasa terbukalah pengertiannya nanti
sedikit demi sedikit sewaktu dia telah besar (matang intelektualnya). Jadi
permulaannya dengan menghafal, kemudia memahami, meyakini dan membenarkan,
dengan tidak memerlukan dalil...jalan menguatkan dan menetapkannya (aqidah),
tidaklah dengan cara berdebat dan berilmu kalam”.
Pada masa kanak-kanak
pendidikan aqidah sangat penting, karena akan memberikan konsep dasar mengenai
aqidah kepada mereka. Apabila pada saatnya anak sudah bisa berfikir secara
abstrak (matang perkembangan intelektualnya), maka anak sudah mempunyai dasar tentang
aqidah yang dijadikan acuan dalam berpikir/belajar untuk memahami aqidah.
Bertolak dari alasan
tersebut dengan melihat perkembangan intelektual dan kemampuan kognitif anak,
maka dalam konteks pendidikan aqidah pada anak , materi yang diberikan antara
lain rukun iman itu sendiri (ruang lingkup aqidah). Apabila arkanul iman sudah
dihafalkan dan difahami serta diyakini oleh anak sejak dini sesuai dengan
kemampuan afektifnya, serta sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang diberikan
oleh orang tua/pendidik terhadapnya, maka bila perkembangan intelektualnya
sudah matang, serta anak bisa berpikir dan memahami aqidah yang diterimanya
sejak dini, maka keimanan mereka di masa dewasa nanti bukan sekedar taklid atau
warisan dari orang tua dan lingkungannya.
Berdasarkan aliran
psikologi asosiasi dalam hal ini adalah teori Lewin, sebagaimana telah dikutip
oleh Sumadi Suryabrata: “bahwa belajar adalah mengulang-ulang. Dengan
pengulangan tersebut, maka akan terjadi perubahan pada pengetahuan kognitif
seseorang”. Dengan demikian apabila anak sejak awalnya sudah diajarkan untuk
menghafal rukun iman, bila perkembangan intelektualnya sudah sudah matang
duharapkan mereka bisa memahami dan menganalisa untuk kemudian bisa meyakini
rukun iman serta dieujudkan dalam perbuatan, maka dengan sendirinya akan
menuntun anak pada keimanan yang yakin atau ainul yaqin bahkan bisa mencapai
taraf haqqul yaqin.
Sebagaimana telah
diketahui bahwa anak masih berikir secara simbolik, tentunya materi (ruang
lingkup/aqidah/rukun iman) pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak juga
akan dipahami secara simbolik pula. Berhubungan dengan hal tersebut, maka
materi pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak akan diuraikan sebagai
berikut:
1. Iman
Kepada Allah
Karena anak masih berpikir secara simbolik, maka sifat Allah Yang
Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan sifat Allah yang lain akan
dipahami anak sesuai dengan sifat yang dilihat manusia. Padahal sifat Allah
jelas berbeda dengan sifat manusia; untuk itu orang tua/pendidik perlu
menggunakan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan kognitif anak.
Mengenai wujud Allah, anak tidak diperlu diberi penjelasan secara mendetail,
karena anak masih berpikir secara simbolik. Tentang kekuasaan Allah, anak bisa
diperlihatkan melalui alam ciptaan Allah seperti gunung yang tinggi, lautan dan
pantai, langit biru, pelangi yang indah, keindahan bentuk bukan purnama,
gemerlapnya bintang pada malam hari dan hal-hal lain yang menkjubkan kepada
anak dan yakinkan kepada anak bahwa itu semua adalah ciptaan Allah Swt.
2. Iman
Kepada Malaikat
Dalam rangka menanmkan keimanan kepada Malaikat terhadap anak;
maka anak cukup diceritakan mengenai kebaikan-kebaikan Malaikat Allah. Misalnya
Malaikat akan selalu mendoakan orang-orang yang membaca shalawat dan orang yang
beriman, maka anak akan senang apabila hal ini diceritakan kepada anak. Anak
juga perlu diberitahu bahwa setiap orang selalu diikuti oleh malaikat. Pada
intinya anak diceritakan mengenai sifat dan kebaikan malaikat terhadap manusia,
hal ini untuk merangsang keinginan anak untuk mau mendengar cerita tentang
malaikat.
3. Iman
Kepada Kitab Allah
Dalam usaha menanamkan keimana terhadap kitab Allah kepada anak, disamping
anak diberitahu mengenai beberapa kitab Allah selain Al-Quran, anak juga diajak
untuk yakin bahwa Al-Quran adalah kitab Allah yang terakhir yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini bisa disampaikan melalui hafalan-hafalan
surat-surat pendek, doa harian, seperti doa mau makan, mandi, tidur, dan lain
sebagainya.
4. Iman
Kepada Rasul Allah
Materi yang perlu diberikan kepada anak dalam usaha menanamkan
keimanan terhadap Rasul Allah, disamping mengenai nama beberapa Nabi dan Rasul
yang sudah disebutkan dalam Al-Quran, anak juga perlu diceritakan mengenai
kepahlawanan, kejujuran, sifat-sifat terpuji para Nabi dan Rasul; semuanya
dikemas dalam cerita yang menarik dan indah agar anak mau mendengarkan
ceritanya.
5. Iman
Kepada Hari Akhir
Mengenai iman kepada hari akhir, anak cukup diceritakan bahwa
setelah semua makhluk hidup mati, akan ada siksa kubur, yaumul baats
(bangkitnya manusia dari kubur), mahsyar (tempat berkumpulnya makhluk setelah bangkit dari
kubur), dibukanya catatn amal, mizan (timbangan amal), shirat (titian), haudh
(telaga), syafaat, surga dan kenikmatannya, neraka dan siksaannya. Dalam hal
ini anak tidak perlu dijelaskan terlalu detail mengenai hal-hal tersebut di
atas, cukup sebatas informasi saja; sebagaimana diketahui bahwa anak balum bisa
berpikir abstrak.
6. Iman
Kepada Takdir Allah
Mengenai iman kepada takdir Allah, bisa diperlihatkan kepada anak
mengenai diciptakannya manusia; ada laki-laki dan perempuan, air es dingin, api
panas, dan lain sebagainya. Agar anak terbiasa mengenai tentang takdir Allah,
maka anak bisa dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata insya allah setiap kali
akan berjanji, dengan mengatakan kepada anak bahwa manusia tidak pernah tahu
takdir Allah untuk hari esok.
Demikian materi
pendidikan aqidah yang bisa diberikan kepada anak, pada intinya materi yang
diberikan kepada anak adalah menyesuaikan kondisi psikis, pola perilaku, dan
pola kehidupan anak, serta perkembangan agamanya.
No comments:
Post a Comment