“Muliakanlah anak-anakmu,
baguskan budi pekerti dan peradabannya”.
(HR. Ibnu Majah)
“Bantulah anak-anakmu untuk
meraih kebajikan/prestasi”.
(HR. Ath-Thabari)
Anak
adalah buah cinta, tambatan hati, belahan jantung, hiasan hidup, dan penyejuk
mata memandang. Anak menjadi pelipur lara dan penawar duka. Jika anak berhasil,
banggalah orang tua, tidak sia-sia perjuangannya. Jika anak berprestasi, beban
yang berat menjadi ringan seketika. Jika anak bisa mandiri, rajin shalat,
pandai bergaul, tidak terlibat perbuatan tercela, kreatif, dan inovatif, orang
tua mana yang tidak berbahagia. Ibarat memelihara tanaman yang sehat tumbuh
subur itu, semangat hidup seseorang menjadi berkobar, ingin bisa memenuhi
seluruh keperluan anak, ingin rasanya hiduplebih lama lagi. Kalaupun Allah
menakdirkan umur orang tua tidak panjang, orang tua merasa telah menunaikan
amanah, tidak ada kekhawatiran di hadapan Allah. Orang tua ikhlas dan ridha
menghadap Khaliq, karena anak pasti akan mendoakannya.
Sebaliknya
jika anak “mursal” susah dikendalikan dan bikin onar, orang tualah yang
menderita. Jika anak terlibat perbuatan amoral, asusila, atau pelanggaran
hukum, malu orang tua tak terlukiskan, sama anak melempar tinja ke muka orang
tua. Sungguhpun demikian, anak tetaplah anak, kasih sayang orang tua tidak akan
rontok diterjang badai.
Untuk
mengantarkan anak menjadi orang yang “shaleh, sukses, dan akram”, dapat
dibanggakan orang tua, maka pendidikan dasar menjadi kewajiban yang tidak boleh
diabaikan. Pendidikan dasar dimaksud adalah pendidikan yang telah diabadikan
oleh Allah Swt dalam Al-Quran.
Pendidikan
sungguh sangat kita aktualisasikan sekarang ini. Lebih-lebih di saat
globalisasi makin nampak pengaruh negatifnya. Fakta yang kita baca tiap hari,
anak-anak dan generasi muda, masa depannya dihadapkan pada situasi yang cukup
berat.
A.
Contoh
Lebih Utama
Mendidik bukan hanya sekedar memberi
nasihat, menuliskan kata-kata bijak, mengajari anak-anak bisa membaca, menulis
dan berhitung; atau mentransfer ilmu pengetahuan. Seperti Lukman Al-Hakim,
orang tua harus bisa memotivasi, menjual ide-ide dan harapan, meyakinkan,
memancing munculnya gagasan-gagasan brilian, menawarkan alternatif pilihan, dan
membuka cakrawala pikiran anak. Mendidik juga berarti mengarahkan,
membangkitkan gairah belajar, merangsang tmbulnya kreatifitas, mendorong
diketemukannya potensi dan kemampuan anak didik. Sisi kognitif yang dipancarkan
oleh otak sebelah kiri memang penting, tetapi sisi imajinatif ayang dipancarkan
oleh otak kanan juga sangat penting. Keduanya harus dieksplorasi secara
seimbang, supaya tidak pincang. Mungkin karena hanya satu sisi yang menjadi
fokus pendidikan, yaitu otak kiri saja, maka tidaklah heran jika perguruan
tinggi yang ada di negeri ini hanya meluluskan sarjana-sarjana yang mencari
pekerjaan, bukan menciptkan pekerjaan, meminta jasa bukan membuat jasa. Banyak
sarjana dan banyak orang pintar tetapi tidak punya kreativitas. Albert Einstein
berkata: “ILMU TANPA IMAJINASI TIDAK ADA GUNANYA”.
Lebi dari itu, tidak kalah pentingnya, guru
dan orang tua harus memberi teladan. Orang tua atau guru akan memiliki kharisma
tinggi dan didengar kata-katanya oleh anak-anak, manakala dirinya sendiri sudah
melakukan sebelum menyuruh anak untuk melakukannya.
Ajarkan cara dan sikap hidup yang kongkrit
dan nyata. Jika melihat ada kotoran di sekolah, guru tidak cukup hanya
menyuruh; tetapi guru harus mengajak murid untuk mengambilnya. Mengajak berarti
memulai terlebih dahulu, bukan memerintah. Dengan sikap dan perbuatan nyata,
berarti guru dan orang tua telah membuka jalan pikirannya. Anak-anak akan
tertarik mengikutinya dan terbangkitnya potensi dirinya, manakala guru dan
orang tua bisa mencairkan kebekuan yang dialaminya. Dan itu terjadi dengan
contoh dan visualisasi. Kesan yang ditimbulkan oleh contoh nyata dan
visualisasi akan tertanam dalam memori anak dan bertahan lama, bahkan sampai
tua tidak akan terlupakan. Anak-anak butuh contoh, bukan kata-kata tanpa fakta.
B.
Jangan
Asal Menasehati
Mahatma Ghandi seorang tokoh pejuang
kemerdekaan India, ketika diminta menasehati anak yang suka makan permen, dia
tidak mau, dia meminta waktu sekian hari lagi untuk memberi nasehat.
“Pak, tolong nasehati anak saya ini! Dia
suka makan permen, susah dicegah”, kata seorang ibu kepada Mahatma Ghandi.
“Ibu... sekarang saya belum bisa menasehati
anak ibu! Tunggu dua minggu lagi, nanti ajak anak ibu datang kemari”, jawab
Mahatma Ghandi.
Dua minggu kemudian, sang ibu bersama
anaknya datang menghadap Mahatma Ghandi. Baru di situlah Mahatma Ghandi memberi
nasehat: “Nak... kamu jangan makan permen ya...! Nanti gigi kamu bisa rusak”.
Hanya kata-kata seperti itulah yang keluar
dari mulut Mahatma Ghandi. Tetapi kenapa harus menunggu sampai dua minggu?
Ketika ditanya, kenapa musti menunggu sekian hari? Mahatma Ghandi menjawab:
“Bagaimana saya memberi nasehat anak ibu untuk tidak makan permen, sedangkan
saya sendiri masih suka makan manisan. Saya harus meninggalkan dulu untuk tidak
makan manisan, saya harus melakukan terlebih dahulu sebelum saya menyuruh orang
lain untuk melakukan, dan saya harus tahu apa alasannya menyuruh orang untuk
berhenti meninggalkan sesuatu”. Sungguh luar biasa. Bukankah Allah Swt telah
berfirman:
uã92 $ºFø)tB yYÏã «!$#
br& (#qä9qà)s?
$tB w
cqè=yèøÿs?
Artinya:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa
kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash-Shaf: 3)
No comments:
Post a Comment