Pendidikan akal atau intelektual sangat penting pada perkembangan hidup manusia. Pendidikan ini harus diberikan sejak dari pra-konsepsi. Selanjutnya, fase perkembangan yang menentukan pendidikan intelektual adalah fase bayi sampai anak-anak, yaitu fase golden age, basic trust, di mana anak mudah meniru, mencontoh, dan menghafal dengan cepat. Dengan pengajaran metode dan prinsip/ motivasi pendidikan yang tepat, sesuai hadits Rasul, akan dihasilkan manusia dengan intelektual Rasul.
Pendidikan intelektual menitikberatkan pada peranan akal. Tak bisa dipungkiri, keberadaan akal memang menjadi salah satu faktor yang memiliki peranan cukup penting dalam proses perolehan ilmu pengetahuan. Dalam kosa kata arab, kata akal disebut dengan istilah aql.
Pendidikan intelektual berarti memberi kesempatan belajar seluas-luasnya kepada anak. Pada masa ini, anak-anak memiliki potensi yang kuat untuk menghfal apapun yang sampai ke pendengarannya. Karena itu, proses belajar menjadi sangat penting untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan membuatnya tetap melekat dalam ingatan anak. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda:
مِثْلُ الَّذِى يَتَعَلَّمُ فِى صُغْرِهِ كَالنَّفْشِ فِى الْحَجْرِ (رواه مسلم)
“Orang yang belajar di waktu kecil itu ibarat melukis di atas batu”. (HR. Muslim)
Kedudukan akal mendapat peranan penting dalam proses penerapan pengetahuan dapat disinyalir dari wahyu yang pertama kali diturunkan, yaitu:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.”
Dari ayat di atas, terdapat perintah membaca. Dalam pengertian yang paling sederjana, membaca merupakan aktivitas intelektual bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan membaca, semua arus infoemasi dan ilmu pengetahuan bisa direkam dalam ingatan. Adapun ingatan adalah salah satu fungsi utama dari adanya otak manusia.
Dari konsepsi ini bisa dimengerti bahwa membaca seyogianya diajarkan sejak anak berusia dini sebelum menempuh pendidikan formal di sekolah. Wahyu pertama ini pula yang menjadi spirit moral dari kelangsunga program pendidikan anak usia dini (PAUD). Dengan memberikan pendidikan secara intelektual, anak akan terbiasa belajar berpikir jernih, sehingg bisa menentukan mana sesuatu yang baik dan mana yang buruk. Dalam konteks demikian, inetelektualitas anak terisi dengan serangkaian patokan moralitas dan etika yang luhur. Karena itu, tepatlah bila Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik menyatakan: ”Dari Rasulullah SAW bersabda: muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak (moralitas)nya.”
Selain hadits di atas, ada pula hadits Nabi Muhammad SAW yang mengandung maksud pendidikan intelektual, yaitu sebagai berikut: “Hak anak yang mesti dipenuhi orang tuanya adalah diajari menulis, menunggang kuda, dan memanah.”
Dalam hadits di atas, disebut tiga hak anak yang mesti diberikan, yaitu diajari menulis, menunggang kuda, dan memanah. Dari aspek penyebutan runtutan hak, dapat dipahami dengan maksud skala prioritas bahwa pelajaran menulis harus didahulukan ketimbang yang lainnya. Sementara hak diajari menunggang kuda dan memanah dalam konteks sekarang bisa jadi perlu ditafsir ulang sesuai dengan kebutuhan zaman modern ini. Namun yang pasti, semua hak anak disebut dalam hadits tersebut bisa digolongkan dalam aspek pemenuhan keterampilan hidup (life skill).
No comments:
Post a Comment