Sunday, February 2, 2014

Pendidikan Spiritual Anak dalam Islam

Disamping pendidikan fisik dan intelektual, pendidikan spiritual juga mendapat perhatian yang serius dalam Al-Qur’an. Sebab, dalam konteks kehidupan modern saat ini, pendidikan spiritual berorientasi pada pengembangan kecerdasan spiritual amat diperlukan. Semakin cerdas spiritualitas seseorang, kian terbuka kesempatan untuk memaknai hidup dengan penuh kearifan. Kecerdasan spiritual ini bahkan diklaim lebih utama dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). 
Prndidikan spiritual pada anak mencakup pada proses pemenuhan kelapangan jiwa. Dengan begitu berarti anak tidak cukup diberi asupan kebutuhan fisik (materi) saja, tetapi juga kepuasan bathin dan merasakan kasih saying dan perhatian yang penuh dari orang tuanya. 
Dalam Al-Qur’an, konsepsi pendidikan spiritual ini telah ditekankan sejak anak masih dalam kandungannya, yakni setelah proses peniupan ruh ke dalam embrio bayi. Al-Qur’an merekam  hal ini dalam Surat Al-A’raf ayat 172:

                         •    

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” 

pendidikan spiritual anak bisa dilakukan dengan cara mengenalkan anak kepada Allah SWT. Kewajiban orang tualah untuk mengenalkan anak kepada Allah SWT. Tentu saja, pengenalan tersebut sebatas kemampuan sang anak dalam mencerna pembicaraan dan permasalahan yang ada di hadapannya. Pengenalan anak pada keimanan kepada Allah SWT sama-sama ditekankan, baik oleh para ulama agama maupun para pakar ilmu jiwa.
Imam Muhammad Baqir dalam hal pendidikan tahap ini mengatakan, “Jika anak telah berumur tiga tahun, ajarilah ia kalimat “laa ilaaha illaallah” (tiada Tuhan selain Allah) sebanyak tujuh kali lalu tinggalkan ia. Saat ia berusia tiga tahun tujuh bulan dua puluh hari, katakana kepadanya “Muhammad Rasulullah” (Muhammad adalah utusan Allah) sebanyak tujuh kali, lalu tinggalkan ia sampai ia berumur empat tahun. Kemudian, ajarilah ia untuk mengucapkan “shallallaah ‘alaa Muhammad wa aalihi” (salam sejahtera untuk Muhammad dan keluarganya) sebanyak tujuh kali dan tinggalkan. Setelah ia genap berusia lima tahun, tanyakanlah kepadanya mana kanan dan mana kiri? Jika ia mengetahui arah kanan dan kiri palingkan wajahnya untuk menghadap kiblat dan perintahkanlah ia untuk bersujud lalu tinggalkan. Setelah ia berumur tujuh tahun suruhlah ia untuk mencuci wajah dan kedua tangannya dan perintahkanlah ia untuk shalat lalu tinggalkan. Saat ia berusia sembilan tahun, ajarilah wudhu dan shalat yang sebenarnya dan pukullah ia bila meninggalkan kewajibannya ini. Jika anak telah mempelajari wudhu dan shalat dengan benar, maka Allah SWT akan mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya, insya Allah. 
Menanamkan benih-benih keimanan di hati sang anak pada usia dini seperti ini sangat penting dalam program pendidikan spiritualnya. Anak di usianya  dini tertarik untuk meniru semua tindak tanduk orang tuanya, termasuk yang menyangkut masalah keimanan. 
Dr. Spock mengatakan, “yang mendasari keimanan anak kepada Allah SWT dan kecintaannya pada Tuhan Yang Maha Pencipta sama dengan apa yang mendasari kedua orang tuanya untuk beriman kepada Allah dan mencintai-Nya. Antara umur tiga sampai enam tahun, anak selalu berusaha menirukan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ketika mereka berdua mengenalkannya kepada Allah, ia akan mengenal Allah sejauh kemampuan orang tuanya menuangkan pengenalan ini dalam bentuk kata-kata.” 

No comments:

Post a Comment