Sunday, February 2, 2014

Pendidikan dengan Keteladanan

Allah SWT berfirman yang artinya: “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik”. (QS. Al-Ahzab: 21). 
Dalam menafisrkan ayat ini, Al-Zamakhsyari dalam Quriash Shihab mengemukakan maksud keteladanan dalam diri Rasulullah. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah teladan. Kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. 
Abdullah Nasih Ulwan menjelaskan bahwa seorang anak, bagaimanapun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan yang utama, selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. 
Dalam proses perkembangan anak, terdapat suatu fase yang dikenal dengan fase imitasi. Pada fase ini, seorang anak selalu meniru dan mencontoh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya, terutama orang tuanya atau gurunya. Metode keteladanan ini sangat cocok diterapkan pada fase ini. Dalam pendidikan, pendidik (orang tua dan guru) tidak cukup dengan hanya memberi nasehat dalam arti menyuruh, tetapi seharusnya memberikan teladan, misalnya menyuruh anak ke mesjid, sementara orang tua atau gurunya tidak pernah ke mesjid. Tidak satunya kata dan perbuatan, menjadikan orang tua atau guru tidak memiliki wibawa sebagai seorang pendidik, dan menjadikan anak bingung, karena apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang didengarnya.

No comments:

Post a Comment