Kebanyakan ummat Islam, kini
terjebak dalam taklid buta. Terkadang suatu anjuran untuk mengikuti dan
berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah serta memalingkan jiwa dari selain
keduanya dianggap sebagai seruan yang mengajak kepada pelecehan pendapat para
ulama dan menghalangi untuk mengikuti jejak para ulama atau mengajak untuk
menyerang perkataan mereka. Padahal tidak demikian yang dimaksudkan, bahkan
harus dibedakan antara mengikuti Nabi semata dengan pelecehan terhadap pendapat
para ulama. Kita tidak boleh mengutamakan pendapat seseorang di atas apa yang
telah dibawa oleh beliau dan tidak juga pemikirannya, siapapun orang tersebut.
Apabila seseorang datang kepada kita membawakan suatu hadits, maka hal pertama
yang harus kita perhatikan adalah keshahihan hadits tersebut kemudian yang
kedua adalah maknanya. Jika sudah shahih dan jelas maknanya maka tidak boleh
berpaling dari hadits tersebut walaupun orang disekeliling kita menyalahi kita,
selama penerapannya juga benar.
Para Imam ulama salaf yang dijadikan panutan umat, mencegah para pengikutnya mengikuti pendapat
mereka tanpa mengetahui dalilnya. Di antara ucapan Abu Hanifah: “Tidak halal
bagi seseorang untuk mengambil
pendapat kami sebelum dia mengetahui
dari mana kami mengambilnya.” Kemudian: “Bila saya telah berkata dengan satu pendapat yang telah
menyalahi kitab Allah ta’ala dan sunah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , maka
tinggalkanlah pendapatku.”
Kemudian salah satu penyakit umat
Islam sekarang ini disamping taklid buta adalah banyaknya para pelaku bid’ah.
Dan di antara sebab-sebab yang membawa terjadinya bid’ah adalah:
1.
Bodoh tentang hukum agama dan sumber-sumbernya
Adapun sumber-sumber hukum Islam adalah Kitabullah,
sunnah RasulNya dan ijma’ dan Qiyas. Setiap kali zaman
berjalan dan manusia bertambah jauh dari ilmu yang haq, maka semakin sedikit
ilmu dan tersebarlah kebodohan. Maka tidak ada yang mampu untuk menentang dan
melawan bi’dah kecuali ilmu dan ulama. Apabila ilmu dan ulama telah tiada
dengan wafatnya mereka, bi’dah akan mendapatkan kesempatan dan berpeluang besar
untuk muncul dan berjaya dan tokoh-tokoh bid’ah bertebaran menyeret umat ke
jalan sesat.
2.
Mengikuti hawa nafsu dalam masalah hokum
Yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sumber segalanya
dengan menyeret/membawa dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mendukungnya,
dalil-dalil tersebut dihukumi dengan hawa nafsunya. Ini adalah perusakan
terhadap syari’at dan tujuannya.
“Maka pernahkah kamu melihat orang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiar-kan sesat) ...” (Al-Jatsiyah: 23).
3.
Fanatik buta terhadap pemikiran-pemikiran orang tertentu
Fanatik buta terhadap pemikiran
orang-orang tertentu akan memisahkan antara seorang muslim dari dalil dan
al-haq. Inilah keadaan orang-orang yang fanatik buta pada zaman kita sekarang
ini, Mayoritas terdiri dari pengikut sebagian madzhab-madzab, sufiyyah
dan quburiyyun (penyembah-penyembah kuburan), yang apabila mereka diseru
untuk mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah, mereka menolaknya. Dan mereka juga
menolak apa-apa yang menyelisihi pendapat mereka. Mereka berhujah dengan madzab-madzab,
syaikh-syaikh, kiyai-kiyai, bapak-bapak nenek moyang mereka. Ini adalah pintu
dari sekian banyak pintu-pintu masuknya bid’ah ke dalam agama Islam ini.
4.
Ghuluw (berlebih-lebihan)
Contoh dari point ini adalah madzab khawarij dan
syi’ah. Adapun khawarij, mereka ghuluw berlebihan dalam memahami
ayat-ayat peringatan dan ancaman. Mereka berpaling dari ayat-ayat raja’
(pengharapan), janji pengampunan dan taubat sebagaimana Allah Subhannahu wa
Ta'ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendakiNya ...” (An-Nisa’: 48,116).
5.
Tasyabuh dengan kaum kuffar
Tasyabbuh (menyerupai) kaum kuffar adalah sebab yang paling
menonjol terjatuhnya seorang kedalam bid’ah. Hal ini pulalah yang terjadi di
zaman kita sekarang ini. Karena mayoritas dari kalangan kaum Muslimin taqlid
kepada kaum kuffar pada amal-amal bid’ah dan syirik. Seperti perayaan-perayaan
ulang tahun (maulid) dan mengadakan hari-hari atau minggu-minggu khusus dan
perayaan serta peringatan bersejarah (menurut anggapan mereka) seperti:
peringatan Maulid Nabi. Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan yang lainnya
adalah meyerupai peringatan-peringatan kaum kuffar.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
“Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka”. (Abu Dawud).
Contohnya ialah kaum Murji’ah, Mu’tazilah,
Musyabibhah dan Jahmiyyah. Kaum Murji’ah memulai bid’ahnya dalam mensikapi
orang-orang yang dizamannya, mereka berkata: “Kita tidak menghakimi mereka dan
kita kembalikan urusannya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala ”. Hingga akhirnya
mereka sampai pada pendapat bahwa maksiat tidak me-mudharat-kan iman,
sebagaimana tidak berfaedah ketaatan yang disertai
kekufuran. Al-Baghdadi berkata: “Mereka dinamakan Murji’ah karena mereka
memisahkan amal dari keimanan.”
Demikianlah, para ahlul bid’ah menjadikan
kebid’ahan-kebid’ahan yang mereka lakukan sebagai satu amalan ataupun suatu
sunnah, sedangkan yang benar-benar sunnah mereka jauhi. Padahal sesungguhnya
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa mengajarkan suatu amalan
yang tidak ada keterangannya dari kami
(Rasulullah), maka dia itu tertolak.” (Hadist riwayat Muslim).
No comments:
Post a Comment